Kecurangan Beasiswa UIN Bandung

Bagi seorang mahasiswa, beasiswa adalah sebuah harapan. Sebuah harapan, karena di dalamnya terdapat berbagai makna. Bagi seorang mahasiswa berprestasi, beasiswa adalah sebuah pengukuhan atas keseriusannya menempuh pendidikan. Bagi seorang aktivis, beasiswa adalah bentuk penghargaan untuk eksistensinya dalam sebuah organisasi. Sedangkan bagi mahasiswa yang kurang mampu, beasiswa adalah sebuah bantuan demi kelangsungan nasibnya dalam menuntut ilmu.

Tak heran jika banyak mahasiswa yang begitu gigih berusaha mendapatkan beasiswa, salah satunya adalah beasiswa DIPA UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang turun beberapa waktu lalu. Sisi positifnya, kegigihan ini bisa dijadikan pemacu bagi tiap mahasiswa untuk terus maju. Namun, akan menjadi sisi negatif jika kegigihan ini diikuti oleh sebuah kecurangan.

Bukan lagi rahasia jika banyak kecurangan yang terjadi dalam pelaksanaan beasiswa. Kecurangan ini bisa terjadi dalam mekanisme, atau pun prosesnya. Dalam mekanisme, kecurangan ini sering berbentuk pemberian yang bersifat nepotisme. Siapa saja yang memiliki hubungan dekat dengan ‘pihak penguasa’, ia bisa mendapat beasiswa. Sedangkan contoh kecurangan dalam prosesnya, biasanya terjadi saat usaha pembuatan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang dijadikan sebagai salah satu syarat. Seperti yang diketahui, 75% beasiswa DIPA UIN Bandung diperuntukkan bagi mahasiswa yang tidak mampu.

Pada kenyataannya, banyak mahasiswa yang mampu secara materi ikut mendapatkan beasiswa tersebut. Untuk mengakalinya, mereka terpaksa merendahkan harga dirinya untuk meminta SKTM pada pihak desa. Bahkan, ada pula yang sengaja melakukan pemalsuan SKTM tersebut. Semuanya dilakukan demi sebuah harapan bernama beasiswa.

Disadari atau pun tidak, perilaku seperti ini benar-benar merugikan banyak pihak, terutama pihak yang sebenarnya lebih berhak mendapatkan beasiswa. Bayangkan jika ada seorang mahasiswa tidak mampu yang kuliahnya tersendat gara-gara urusan registrasi, sementara ia tidak bisa membayarnya karena memang tidak memiliki biaya. Saat mengajukan beasiswa, ia ditolak karena formulirnya sudah habis.Bagaimana bisa ia melanjutkan kuliah? Bagaimana jika kejadian ini terjadi pada kita?

Karena itu, alangkah baiknya jika setiap individu menyadari kapasitas dirinya sendiri. Benarkah ia berhak mendapatkan beasiswa tersebut? Jangan sampai terjadi seorang yang mampu dari segi materi mendapat beasiswa, kemudian menggunakannya hanya untuk berfoya-foya. Padahal di sekitarnya ada orang lain yang menderita akibat ulahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: