Jatah Beasiswa Untuk Organ Ekstra?

Pendidikan di Indonesia dewasa ini terbilang mahal, banyak masyarakat yang tidak tersentuh oleh pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, apalagi melanjutkan ke perguruan tinggi.

Untuk mengatasi hal diatas, banyak cara yang ditempuh oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan, salah satunya dengan program beasiswa. Beasiswa menjadi alat pemerintah untuk meningkatkan kualitas lembaga atau pelaku pendidikan, beasiswa menjadi pemacu semangat dalam menghadapi hegemoni pendidikan yang terbilang mahal.

UIN Sunan Gunung Djati Bandung mendapat anggaran dari pemerintah untuk beasiswa. Melalui DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) UIN Bandung, program beasiswa dialirkan. Beasiswa dialokasikan untuk 3800 mahasiswa setiap mahasiswa mendapatkan beasiswa sebesar 1,2 juta rupiah dengan kriteria tidak mampu dan prestasi. Tapi apakah kita tahu mekanisme pengaliran beasiswa pada mahasiswa? Benarkah ada jatah khusus beasiswa untuk aktivis organisasi ekstra di UIN?

Berawal dari sebuah isu, terindikasi bahwa ada dana beasiswa khusus dari pihak rektorat yang mengalir pada mahasiswa di organisasi ekstra. Padahal, organisasi ekstra-kampus tidak masuk pada struktural civitas akademik UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Untuk mengetahui kebenaran hal tersebut, kru suaka melakukan konfirmasi kepada pihak terkait. Organisasi ekstra yang ditemui oleh kru suaka adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Rahmatullah, Sekertaris Umum HMI saat ditemui disela-sela aktivitasnya, menyatakan bahwa tidak ada jatah khusus untuk mahasiswa yang aktif di HMI mereka mendapatkan beasiswa atas nama individu, bukan atas nama HMI.

“Beasiswa diperuntukkan untuk semua mahasiswa. Beasiswa nggak harus dibedakan dari organisasi mana. Siapa yang layak, itu yang dapat,” kata Rahmatullah.

Setali tiga uang dengan Rahmatullah, Encep Sopian, salah seorang angota PMII menyatakan bahwa aktivis PMII mendapat beasiswa dari jurusannya masing-masing, bukan atas nama PMII. Namun, hal berbeda diungkapkan oleh adesri dari PMII, ia mengaku mendapatkan jatah dari PR I Nurul Aen.

“Tiap rayon dapet jatah dua orang. Sistem pembagiannya setengah setengah. Ades dapet 600, dan rayon 600,” ungkap Adesri.

Untuk memperjelas hal tersebut, kru suaka menemui Kasubag Informasi UIN SGD Bandung, Ida Nurjida. “Tidak ada jatah khusus untuk organisasi ekstra,” tandas Ida. Adapun Aktivis yang mendapatkan beasiswa karena mereka tercatat sebagai mahasiswa aktif, hanya kebetulan mereka aktif di organisasi ekstra.

Ida menambahkan mekanisme penyaluran beasiswa di UIN, dilakukan melalui sosialisasi terlebih dahulu kepada tujuh fakultas yang ada. Kemudian, tiap-tiap fakultas memiliki hak preogatif untuk menyalurkannya pada mahasiswa yang ada di jurusan tiap-tiap fakultas tersebut. Jadi, untuk teknis pelaksanaanya, pihak rektorat tidak terlalu mengetahui karena itu sudah diatur olah fakultas masing-masing.

Ketika kru suaka meminta data penyaluran beasiswa kepada tiap-tiap fakultas, pihak rektorat tidak dapat menunjukannya karena belum ada data penyaluran beaiswa untuk tahun 2010.  Beasiswa dari DIPA dialokasikan untuk 3800 mahasiswa, untuk tiap-tiap fakultas tersalurkan 2500 beasiswa dan pihak rektorat menyimpan jatah beasiswa untuk 1300 mahasiswa sebagai antisipasi untuk mahasiswa  berprestasi dan aktivis di setiap UKM yang ada di UIN. Jadi, jatah untuk organisasi ekstra tidak ada sama sekali, karena hanya ada dua kriteria mahasiswa yang mendapatkan beasiswa yaitu kurang mampu dan prestasi. Selain itu, setiap UKM mendapat jatah dua orang, bukan organisasi ekstra.

Ida menambahkan, pihak rektorat sendiri tidak melakukan pengawasan secara langsung terhadap penyaluran beasiswa di tiap-tiap fakultas, karena sudah terwakili oleh admisnistrasi dan prosedur yang ada . “Maka, maklum saja jika ada penyelewengan dari mabes (makelar beasiswa red.) karena kami adalah manusia biasa. Tetapi, pihak rektorat sudah melakukan penyaluran dan pengawasan beasiswa secara maksimal dan hal itu sudah cukup ideal,” papar Ida.

Mekanisme pengaliran beasiswa sudah terjalankan dengan baik walaupun pihak rektorat belum mendistribusikan semuanya, karena masih tersisa 1800 beasiswa yang belum tersalurkan dari 3800 dengan nominal keseluruhan 4,56 milyar rupiah. Sedangkan jatah khusus untuk organisasi ekstra tidak ada sama sekali. Adapun penyimpangan aliran beasiswa oleh oknum-oknum dan makelar beasiswa dikarenakan kelemahan pihak rektorat sebagai manusia.

Ada tidaknya jatah khusus beasiswa untuk organisasi ekstra dan penyimpangan yang dilakukan oleh oknum staf rektorat, beasiswa adalah hak bagi mahasiswa. [] Agus, Erine, Tian, Fikri/Suaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: