Gonjang-Ganjing Beasiswa Siluman UIN Bandung

Tidak seperti biasanya, hari itu suasana Bank Rakyat Indonesia (BRI) kantor unit UIN Sunan Gunung Djati Bandung terlihat dipadati mahasiswa. Bukan untuk registrasi semester, namun untuk membuka rekening, sebagai salah satu syarat pengajuan beasiswa DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) UIN Bandung. Tahun ini, DIPA UIN Bandung mengalokasikan dana sebesar 4,56 milyar rupiah untuk beasiswa bagi 3800 mahasiswa.

Seperti tahun sebelumnya, beasiswa DIPA UIN Bandung diberikan pada orang yang berprestasi atau pada orang tidak mampu secara materi. Bagi yang berprestasi, tentu saja beasiswa adalah sebuah tanda penghargaan. Sedangkan bagi yang tidak mampu, beasiswa adalah bantuan untuk meringatkan beban pendidikannya.

Namun pada prosesnya, terungkap sebuah fakta berbeda. Di kampus ini, ternyata siapa pun bisa mendapatkan beasiswa ini, sekali pun ia tidak berhak. Namun ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu memiliki koneksi di pihak pemegang kebijakan seperti para staf rektorat.

Tindakan nepotisme ini sering terjadi, namun tidak banyak yang mengetahuinya. Seperti yang diungkapkan oleh Ros, mahasiswa semester 6 Jurusan Sosiologi. “Sering dengar hal seperti ini, sayangnya kita tak punya cukup fakta untuk membuktikannya.” keluh Ros.

Kepada Suaka, beberapa mahasiswa mengaku mendapatkan beasiswa tanpa melalui jurusan karena mempunyai saudara atau kenalan di Al-Jamiah. “Awalnya aku nggak tahu menahu, namaku nggak tercantum di jurusan sebagai orang yang berhak menerima beasiswa. Namun, tiba-tiba saja seorang oknum Al-Jamiah menawarkan beasiswa dengan perjanjian bila cair nanti dipotong 400 ribu dari total 1,2 juta,” tutur mahasiswa Tarbiyah yang tak mau disebutkan namanya ini polos.

Ia juga mengungkapkan bahwa salah seorang temannya telah dua kali mendapatkan beasiswa dari saudaranya di Al-Jamiah.

Kasus yang nyaris serupa dialami Dede, mahasiswa Fakultas Ushuluddin. Dede mengaku hampir tiap semester mendapat beasiswa. “Saat itu saya dipanggil pihak Al Jamiah membicarakan masalah organisasi, ngobrol-ngobrol dan kemudian mulai dekat. Setelah itu, saya pun ditawari beasiswa,” ujarnya bangga.

Menanggapi hal ini, Ketua Program Studi Fisika Fakultas Tarbiyah Yudi Dirgantara menyatakan seharusnya beasiswa adalah bentuk penghargaan pada siswa. Karena itu, kata Yudi, orang yang menerimanya tidak bisa sembarangan, apalagi dicampuri praktik nepotisme.

“Ada beberapa mahasiswa saya yang mengaku mendapatkan beasiswa siluman ini. Ya, saya lebih suka menyebutnya beasiswa siluman karena illegal. Saya sempat ribut sama pihak Al-jamiah dan menanyakan masalah ini pada Cece dan Bu Ida, tapi mereka tidak bisa menjawab apa-apa,” papar Yudi.

Yudi mengatakan akan menindak tegas mahasiswa yang mendapat beasiswa siluman. Caranya, ujar Yudi, dengan cara tidak memberikan transkrip nilai yang merupakan salah satu syarat pengajuan beasiswa.

“Biasanya saya panggil mahasiswa tersebut, saya nasihati karena mungkin ia belum menyadari prinsip hidup, bahwa tindakan seperti ini termasuk perbuatan dusta, dzalim. Kalau mahasiswa tersebut keukeuh, saya akan berikan (transkrip nilainya, red-) dan akan saya tandatangani. Namun, anak tersebut akan dikasih tanda dan selamanya tak akan diberi beasiswa dari jurusan,” lanjutnya.

Hal senada diungkapkan Pembantu Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi Ujang Saefullah. “Perbuatan tersebut tidak diperbolehkan. Saya memang pernah mendengar, tapi belum terbukti di sini. Pernah juga ada oknum Al-Jamiah yang meminta dua beasiswa, saya bilang boleh asal mahasiswanya dibawa ke sini. Tapi dia nggak mau, sehingga saya curiga.  Konon potongannya mencapai 20%, bahkan 50:50. Kalau itu ada, harus segera dilaporkan!” tegas Ujang.

Saat dikonfirmasi di ruangannya, Kasubag Sistem Informasi Ida Nurjida mengakui bahwa tindakan seperti itu sering terjadi. “Tapi hanya terbatas pada saudara staf, itu pun hanya satu atau dua orang. Kami kan memberi beasiswa pada para mahasiswa, jadi apa salahnya kami memberi pada kerabat? Hal itu wajar saja, apa lagi jika mahasiswa tersebut benar-benar tidak mampu. Namun, kami menolak jika disebutkan memberi potongan untuk pemberian ini,” kata Ida.

Senada dengan Ida, Kasubbag Kemahasiswaan dan Akademik Fakultas Psikologi Fakhri Hadyuadi juga menanggapi hal ini dengan santai. “Memang ada yang seperti itu, tapi dengan syarat harus ada tanda tangan dari orang Al Jamiah-nya. Jangan melihat karena siswa itu punya orang dekat dan dapat beasiswa itu salah. Siapa yang tahu kalau dia memang tidak mampu atau berprestasi,” ujarnya.

Menanggapi beasiswa yang berbau nepotisme ini, Darmawan mahasiswa Fakultas Saintek menyayangkannya.”Termasuk perbuatan jelek, kasihan buat yang lebih berhak,” ungkapnya prihatin.

Begitu pula Ulfah, Tina dan Icang, mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris ini sepakat kalau nepotisme dalam pembagian beasiswa merupakan hal yang tidak fair. “harusnya pembagiannya secara merata, bukannya tidak transparan seperti ini.”

Kasus beasiswa bukanlah hal yang baru di kampus ini, telah menjadi rahasia umum bagi mayoritas civitas akademik. “UIN itu terlalu royal. Ya memang suka ada yang nyelonong minta transkrip nilai, katanya dapat dari Al Jamiah. Kebanyakan aktivis UKM,” ungkap salah seorang pegawai TU Fakultas Ushuluddin

Ketua Jurusan Aqidah Filsafat Gustiana Isya Marjani, juga menyayangkan bila ada praktik semacam ini. “Terus terang saya baru mendengar kasus seperti ini, tapi pada jurusan ini kami menggunakan asas pemerataan, proses penyeleksian siapa saja yang berhak menerima beasiswa dirapatkan bahkan melibatkan PD I,” tutur Gustiana yakin. []Ratih, Sopi, Nia, Tina, Tri/Suaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: