Dibalik Penutupan dan Pembatasan Gerbang UIN

Oleh : Aida Kania Lugina

Malam yang sepi tak seperti hari-hari biasanya. Kegelapan tampak begitu nyata tanpa aktivitas yang berarti dari mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tak usah heran, sebelum jam menunjukkan pukul 19.00, mereka memang sudah harus bergegas meninggalkan kampus.

Sementara siang harinya, jalan yang berada di dekat GOR Bulu Tangkis tampak lebih ramai dari hari sebelumnya. Bahkan, mahasiswa dan warga kerap mengantri untuk melintasi jalan setapak ini. Disebut jalan setapak karena luas jalannya memang hanya cukup untuk satu orang.

Kondisi ini mulai terlihat setelah adanya penutupan total tiga portal di belakang dan pembatasan waktu pembukaan gerbang lain. Sudah lebih dari tiga minggu, penutupan tiga portal dan pembatasan jam gerbang itu diberlakukan. Tiga portal itu berada di wilayah RW 09, yaitu di belakang gedung Ma’had Aly (gedung baru), di belakang Cafetaria (dekat gedung X) dan di belakang lapangan sepak bola.

Rencananya, pihak rektorat memang akan menutup semua portal yang menjadi lalu lintas alternatif mahasiswa dan masyarakat menuju kampus. Penutupan tiga portal dan pembatasan jam gerbang itu sebagai tahap awal untuk merealisasikan rencana dari pihak rektorat.

“Pintu gerbang memang akan ditutup semua, jadi satpam bisa mengontrol seluruh keamanan dan mengontrol orang-orang yang masuk. Oleh karena itu, pihak rektorat dan pihak keamanan mensosialisasikan kepada pihak RW setempat. Pada prinsipnya saya setuju saja cuma harus bertahap agar masyarakat tidak kaget,” ucap Zaenudin selaku Kabag Rumah Tangga UIN dengan santai disela-sela waktu istirahatnya.

Mengenai latar belakang penutupan ketiga portal dan pembatasan jam gerbang, Bima selaku koordinator satpam UIN menjelaskan, adanya penutupan portal belakang kampus dan pembatasan jam gerbang adalah untuk mempersempit orang-orang yang tidak berkepentingan masuk kampus tanpa pengawasan security, seperti para pengemis dan pedagang asongan. “Dengan akses pintu keluar-masuk dipusatkan di gerbang utama UIN sedikit-banyaknya akan terawasi siapa saja yang masuk dan mempunyai kepentingan apa saja,” ujarnya.

Ia menambahkan, selain pengawasan terhadap orang-orang yang tidak berkepentingan, pencegahan dari berbagai modus kejahatan pun menjadi hal yang diperhitungkan. Salah satunya, mencegah pencurian penangkal petir. Pencurian itu kerap terjadi di gedung-gedung bagian belakang pada malam hari. Akibat dicurinya penangkal petir oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, fasilitas hotspot pun jadi terganggu.

Sebelum adanya kesepakatan penutupan tiga portal belakang dan pembatasan jam gerbang, beberapa kali pihak kampus dengan pihak warga melakukan rapat. Rapat termin I dilaksanakan pada 22 Maret 2010 pukul 19.00 WIB di ruang sidang Al-Jami’ah. Dihadiri sekitar 60 warga perwakilan dari RW 06, RW 07, RW 09 dan Pembantu Rektor II serta security kampus.

Di sisi lain, berbagai protes datang dari pihak warga, pun dari mahasiswa. Terbukti dari hasil angket yang diberikan kepada masyarakat dan mahasiswa setempat hampir 99% menyatakan tidak setuju dengan adanya penutupan total ketiga portal tersebut. Angket ini dibuat oleh Ketua RW 09. Di RW yang lain pun menyatakan demikian, walaupun tidak dengan format angket yang sama.

Angket yang dibuat memiliki beberapa pertimbangan. Antara lain menimbulkan hilangnya ekonomi masyarakat, menimbulkan sulitnya arus lalu lintas antara masyarakat dan mahasiswa dan menimbulkan kesenjangan pihak warga dan kampus. Saling membutuhkannya antara mahasiswa dan masyarakat setempat menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan dengan adanya penutupan total dan pembatasan jam gerbang ini.

Purwanti, mahasiwa BPI menyatakan penutupan gerbang tersebut memiliki dampak negatif dan juga dampak positif. “Ya positifnya banyak orang yang tidak berkepentingan kini tidak bisa masuk kampus seenaknya. Namun sebenarnya saya merasa kurang nyaman karena penutupan gerbang itu membuat saya yang biasa melewati pintu gerbang belakang gedung X menjadi harus berputar jauh melewati pintu gerbang belakang lainnya yang belum ditutup total,” ucapnya.

Lalu, dilakukan lagi rapat termin II pada 31 Maret 2010 karena rapat termin I belum membuahkan kesepakatan antara pihak warga dengan pihak kampus. Hasil rapat termin II disepakati oleh Pembantu Rektor II (mewakili Rektor), pihak security, pengurus RW setempat serta tokoh-tokoh masyarakat.

Meski telah ada kesepakatan, pihak warga merasa tidak puas. Dalam realisasinya, pembatasan jam gerbang ini diakui pihak-pihak yang mengikuti rapat bersama pihak rektorat tidak sesuai dengan persetujuan hasil rapat termin II.

Oo Rochim, selaku ketua RW 09 menyatakan Pembantu Rektor II yang hadir pada rapat tersebut menyetujui penutupan akan dimulai dari pukul 06.00 sampai pukul 21.00 tapi justru realisasinya dari pukul 05.00 sampai 19.00 WIB. “Hasil kesepakatannya kan dari pukul 06.00 sampai pukul 21.00. Tapi kok malah dari pukul 05.00 sampai 19.00 WIB. Makanya setelah diadakan termin II tersebut kita masih menunggu konfirmasi dari pihak kampus karena banyak pemberlakuan yang dilakukan secara sepihak

Comments
One Response to “Dibalik Penutupan dan Pembatasan Gerbang UIN”
  1. astahiang says:

    yang mestinya di amankan satpam itu ya satpam nya sendiri. satpam kan harusnya ngontrol. tp satpam d uin lebih kaya tukang parkir. kerjanya nunggu sama mintain duit parkir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: