Dana Musema, Apatisme Mahasiswa dan Ketidaktahuan Rektorat

Pelaksanaan Musema untuk memilih ketua Dewan Mahasiswa (Dema) beberapa waktu lalu ternyata tidak menimbulkan reaksi yang berarti dari kalangan mahasiswa. Bahkan, mayoritas mahasiswa tidak mengetahui apa pun mengenai hal ini. Padahal, Musema yang berlangsung di Pantai Pangandaran tersebut menghabiskan dana yang tidak sedikit, sekitar 100 juta rupiah.

Hal ini cukup mengherankan. Mahasiswa selalu mengeluhkan minimnya fasilitas yang ada di kampus ini, namun mengapa tidak ada protes saat uang mereka digunakan untuk mendanai Musema di tempat wisata, bukannya untuk menambah fasilitas perkuliahan?

Jika mahasiswa tidak mengetahui apa pun, lalu bagaimana respons para birokrat kampus mengenai mengenai pendanaan Musema ini? Ternyata sama halnya dengan mahasiswa, Pembantu Rektor III Endin Nasrudin juga menyatakan tidak tahu apa-apa. Bahkan, ia mengakui tidak mengetahui apa pun tentang hasil Musema, yang mengangkat M. Jatnika Sadili sebagai Ketua Dema perode 2010-2011. Kemudian, ketidaktahuan ini diungkapkan pula oleh Kepala Biro A2KPSI Yamin. Hal yang tidak logis, mengingat seluruh kegiatan mahasiswa haruslah atas sepengetahuan mereka, termasuk besaran dana yang dikeluarkan.

Pertanyaannya, apakah mereka benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Jika benar-benar tidak tahu, lalu apa kerja mereka? Duduk manis di atas kursi empuk dan meminum secangkir kopi dengan berkipaskan uang?
Namun, sungguh menyedihkan jika mereka hanya pura-pura tidak tahu. Di kampus Islam seperti UIN, rupanya masih banyak tersimpan ketidakjujuran. Mungkin, mereka takut diminta pertanggungjawaban terkait mudahnya mengeluarkan dana 100 juta untuk pelaksanaan Musema lalu. Entahlah.

Kini, jangan heran jika kita menyaksikan sering melihat mahasiswa apatis yang aktivitas setiap harinya hanya pulang-kuliah pulang (kupu-kupu). Kejadian ini sepertinya sudah diatur sedemikian rupa agar mahasiswa hanya berorientasi pada kegiatan akademik semata tanpa tahu keadaan kampus sebenarnya. Keadaan ini sangat mengkhawatirkan. Layaknya zaman Orde Baru, mahasiswa dibuat bisu, tuli, dan buta terhadap keadaan kampusnya.

Dengan keadaan seperti ini, kesejahteraan bagi seluruh komponen kampus sepertinya masih jauh untuk bisa tercapai. Kita hanya bisa berharap, semoga kampus ini tidak benar-benar mengalami kehancuran yang diakibatkan ulah segelintir kelompok yang berkepentingan. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: