Nggak Mau Jadi Benalu Buat Orang Tua

Oleh: Tri Mastuti Handayani

Langit cerah untuk kampus hijau UIN SGD Bandung mencipta semangat untuk para agent of change. Sejuta tekad menjadikan tangguh dalam pertarungan hidup untuk tidak menjadi benalu. Yah benalu ,makhluk yang tercipta untuk tidak ditiru karena ketergantungannya.

Agnia Tsakila, bukan salah satu benalu yang hidupnya tergantung pada hasil keringat orang tuanya. Meski muda, sosok yang mungkin tidak semua mahasiswa UIN SGD Bandung mengenalnya ini adalah pekerja keras yang ulet.

Sejak semester I, selain kuliah, mahasiswa jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) semester II ini berjualan makanan yang beragam jenisnya seperti makroni balado, basreng, balado, cimol, pastel, pisang aroma dan lain-lain. Dengan background alasan “Nggak mau jadi benalu buat orang tua” hasilnya berjualan dialokasikan sebagai ongkos kuliah sehingga tidak perlu lagi minta dari orang tuanya.

Penghasilan yang ia dapat sehari-harinya kurang lebih Rp 35.000 dari 50 makanan yang habis terjual. Keuntungannya sebagian disetorkan dan sebagiannya lagi keuntungan bersihnya yang ia ambil sebagai jatah ongkos kuliahnya sehari-hari.

Malu, gengsi, bercampur aduk menjadi rasa yang tidak bisa ia hindari saat mengawali usahanya berjualan makanan di kampus. Karena mangsa pasar yang menjadi bidikannya pertama kali adalah teman-teman sekelasnya. Orang-orang yang setiap hari dekat dengannya memang lebih menantang mentalnya daripada orang-orang yang memang tidak ia kenal sama sekali sebelumnya.

Segala sesuatu tidak selalu berjalan mulus sesuai dengan harapan. Begitu pula yang terjadi pada Agnia. Relawan pengajar mengaji di LP (Lembaga Pertahanan) di Sukamiskin, Cibiru ini mengalami kisah menarik yang mengikuti perjalanan usahanya berjualan. Pernah suatu hari ia kesiangan pergi kuliah, dan gara-gara kesiangan itu dagangannya masih tersisa banyak. Alhasil, omset hari itu menurun drastis, otomatis penghasilannya pun miris. Selain itu, pengalaman menarik lainnya ia pernah mendapat pesanan 80 kue kacang ijo dari temannya, tapi karena ia menggunakan transportasi umum ke kampus, ia harus menenteng pesanan kue yang cukup banyak dan sangat berat itu sendirian.

Lain Agnia, lain pula Arief. “Alasan memilih modem karena modem peluangnya masih sangat besar, kan sebelum kita memulai berbisnis kita harus mengetahui dulu peluang yang ada di masyarakat dan saya melihat peluang itu pada mahasiswa ditambah disini belum ada yang menyewakan itu,” tutur mahasiswa jurusan PAI (Pendidikan Agama Islam) semester VI saat diwawancarai oleh kru Fresh.

Bisnis modem ini di mulai Arief sejak semester V. Berawal dari menyewakan modem milik orang lain, Arief lalu membeli modem sendiri dengan modal satu juta. Dari keuntungan satu modem dijadikan lagi modal untuk membeli modem lagi. Kini dalam usahanya itu, ia telah memiliki tiga modem. Untuk satu modem yang disewakan, ia mematok harga Rp 1.500/jam. Dari cucuran keringatnya itu, ia bisa hidup mandiri dan lagi-lagi tidak untuk menjadi benalu orang tua karena mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari tanpa harus meminta kepada orang tua bahkan dari hasil bisnis garapannya itu bisa terus menjadi modal agar bisnisnya lebih berkembang.

Namun, sepak terjang dalam membangun bisnis modemnya, tidak lepas dari perjuangan serta kerja keras luar biasa yang tak kunjung padam. Banyak suka duka menjadi warna tersendiri yang menghiasi perjalanan bisnisnya. “Sukanya, ketika pelanggan ramah dan baik, juga saat barang tiap hari ada yang menyewa. Dukanya, ketika pelanggan kurang welcome, pesanannya jauh harus jalan kaki, apalagi kalau pelanggan sudah membatalkan pesanan dan modem nggak konek trus ,yah… kan namanya juga barang elektro kadang suka ada kerusakan atau eror.”, ucap Arief.

Sadar atau tidak, diinginkan maupun tidak diinginkan, benalu bisa hinggap pada diri siapa saja, apabila tidak mau merubah pola pikir untuk kedepan dan mau berusaha dari hal yang sederhana. Saat ini memang mereka tidak berada pada posisi atas. Namun, mereka sedang berusaha untuk menuju lebih baik. Makanya, ketika ia melihat kesempatan untuk lebih baik dilingkungan mereka, merekapun tidak menyia-nyiakannya. Usaha mereka untuk mandiri dan berpikir lebih majupun patut di acungi jempol. (Kru Magang) /Fresh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: