Ada Apa Dengan Dana Parkiran???

Oleh : Nasrul Afidin

Matahari mulai menampakkan sebagian cahayanya, rasa dingin pun mulai menghilang, 4 orang penjaga parkir mulai beraksi melaksanakan tugasnya, menanti para mahasiswa dan dosen yang hendak melakukan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) untuk memarkirkan motornya.

Dihitung-hitung dalam sehari sedikitnya 300 motor terparkir dikawasan parkir yang seadanya ini. Hanya disekitar halaman depan aula, jalan raya di depan Pusbinsa (Pusat Pembinaan Bahasa) dan cafeteria UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Penjagaan yang begitu ketat membuat pengguna motor merasa nyaman memarkirkan motornya disana. Namun, pada saat keluar area parkir, saat pengembalian KTP (Kartu Tanda Parkir) diselipkan uang receh Rp 500, padahal dalam kartu parkir poin 9 tertulis “Tidak dipungut retribusi”. Timbul pertanyaan, mengapa demikian? Bukankah hal itu tidak semestinya terjadi? Lalu dialokasikan kemana uang hasil parkiran itu?

Iman, salah seorang anggota security menjelaskan bahwa penjaga parkir memang tidak memungut retribusi dari mahasiswa yang parkir di area ini. “Kalaupun ada, mahasiswa yang memberi uang, itu semata-mata karena keinginan mereka sendiri. Memang, pernah ada penjaga parkir yang meminta, mungkin karena mereka merasa kesal atau capek seharian menjaga tanpa mendapat imbalan apa-apa. Tapi penjaga parkir yang “nakal” itu sudah diperingatkan oleh Danrup (Komandan grup) pada saat rapat rutinan,” terangnya.

Menurutnya, dalam sehari minimal Rp 200.000 yang diperoleh dari hasil “uang pamrih” menjaga tempat parkir. Bahkan kalau ada acara-acara besar mencapai Rp 400.000. Uang tersebut dikoordinir oleh salah satu satpam. Sebagian uang itu digunakan untuk makan, “ngopi” para penjaga parkir selama bertugas. “Pihak rektorat memberikan uang “Ngopi” sebesar Rp 2000/orang. Hanya cukup untuk kopi dan sebatang rokok. Gimana dengan konsumsi makannya? Karena uang gaji yang setiap bulannya Rp 600.000 hanya cukup untuk kebutuhan keluarga saja. Makanya kami memanfaatkan uang tersebut,” tuturnya.

Dijelaskan pula, uang yang turut dirasakan para cleaning service itu ditabungkan sebagai kas untuk keperluan-keperluan yang mendadak, musibah keluarga atau kebutuhan lainnya. Saat ada salah satu keluarga yang sakit, kemudian tidak mempunyai biaya untuk berobat, maka uang kas tersebut dipakai untuk biaya pengobatan tanpa perlu menggantinya. Selain itu, uang tersebut juga biasanya di pinjamkan untuk keperluan keluarga dengan alasan yang jelas. “Maka jangan diragukan lagi permasalahan keuangan kas. Uang itu digunakan untuk kepentingan yang bermanfaat,” tegasnya.

Di kampus ini, security yang merangkap sebagai penjaga parkir berjumlah 17 orang. Mereka dibagi menjadi 3 grup, satu grup berjumlah 5-6 orang, 4 orang ditempatkan didepan yakni tempat parkir, 1 orang dibelakang kampus. Pembagian itu pun tidak tetap. Setiap 2 jam sekali dalam 24 jam pengontrolan selalu dilaksanakan. Namun, masih saja ada tindak criminal seperti : curanmor, kehilangan laptop dan sebagainya.
Demi keamanan lebih terjamin, besar harapan rencana pengajuan untuk penambahan personil security kepada pihak rektorat. Agar setiap fakultas bisa dijaga masing-masing oleh satu orang security. Namun sayang gayung tak bersambut, harapan hanya tinggal harapan, pihak rektorat belum juga merealisasikannya. Diharapkan juga kepada mahasiswa, begitu juga pengendara motor agar ikut serta dalam menjaga keamanan.

“Jangan sembarangan memarkir motor, jika ada sesuatu yang tidak diinginkan kami juga kan yang disalahkan,” ungkapnya mengakhiri wawancara dengan kru Fresh. (Kru Magang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: