Yuyun, Mengakrabkan Diri Dengan Banjir

Tampak rumah Yuyun yang terendam banjir pada 29 Januari lalu.


Matahari pagi yang menyilaukan mata terpantulkan oleh genangan air kotor di depan rumahnya. Kini Febuari telah menyapa. Matanya selalu mengawasi anak-anak yang bermain di halaman rumahnya yang tergenang. Tawa mereka lepas tak menghiraukan Ibunya yang berteriak khawatir. “Da murangkalih mah atoh banjir teh (anak-anak senang kalau banjir -red),” Ujar Yuyun, pada 13 Februari lalu.
Senyumnya selalu mengembang walaupun cekungan matanya terlihat menghitam, lelah.
“Di sini memang sering banjir, mau gimana lagi?” katanya pasrah.
Yuyun merupakan salah satu warga asli Desa Linggar yang rumahnya merupakan langganan banjir. Titik- titik air dari langit yang hadir di setiap musim penghujan tetap menjadi berkah untuknya. Air yang tak lagi terserap di daerah hulu. Daerah yang telah menggeliat menjadi pabrik dan perumahan.
“Saya besar disini, nikah disini, sekarang punya anak, lahirnya juga disini,” ungkap Yuyun.
“Dulu di sini gak pernah banjir, kebun juga banyak. Malahan dulu saya sering mandi di Cimande,” lanjutnya mengenang.
“Sekarang mah Cimande udah kaya bajigur,” tambahnya seraya tertawa.
Dinding rumahnya yang yang terbuat dari bilik terlihat mulai berlubang. Cat putihnya telah menguning terkena asap anti nyamuk bakar. Lantai kayunya kerap berderap saat anak-anak berlari diatasnya.
Rumahnya memang rumah panggung. Rumah yang mempunyai kolong. Gaya rumah yang sudah sangat jarang ditemui.
Lahan sengketa yang kosong di samping rumahnya becek dan licin sering tergenang banjir.
“Banjir paling besar itu, banjir kemarin ( 29 Januari 2010-red), sampai masuk ke rumah, biasanya kan hanya sampai teras,” tutur ibu empat anak ini.
Pada malam hari, saat air mulai naik Ia dan anak-anaknya megungsi ke rumah saudara yang tidak kebanjiran. “Suami mah di rumah, jaga-jaga,” lanjutnya.
Tak ada keinginan untuk pindah dari rumah yang menanungi keluarganya selama berpuluh tahun, walaupun ia kerap keropotan ketika banjir tiba dan sesudahnya.
Saat disinggung tentang kontrakan, ia mengatakan bahwa kontarkan adalah salah satu sebab dari banjir ini. “Iya, kontrakan banyak sekarang, airnya dibuang lewat sini, mereka mah buang aja, gak mikirin yang di belakang kebanjiran” ungkapnya. Rasa kesal mengiringi gaya bicara dan mimik wajahnya.
Bagian belakang rumah Yuyun memang sebuah selokan yang cukup besar. Air dari depan yang mayoritas adalah kontrakan akan mengalir melewati belakang rumah panggung tersebut. Namun, Air yang seharusnya mengalir terus ke belakang tersendat, karena warga lain setelah rumah Yuyun menaikkan tanahnya, sehingga air akan terus menggenang di belakang rumahnya, dan apabila hujan turun deras, selokan itu meluap dan menggenangi jalanan di sekitar rumahnya.
Yuyun sendiri tidak memiliki kontrakan walaupun ia warga asli desa Linggar. “Modal kontrakan itu besar,” jawabnya polos.
Tak ada pilihan baginya selain mengakrabkan diri dengan banjir. Ia hanya bisa pasrah apabila musim penghujan datang. Ia hanya berharap agar ada perbaikkan, sehingga beanjir tidak terlalu merepotkan dirinya.
“Tapi alhamdulillah, sekarang sudah dibikinin jalan semen sama desa,” ungkapnya.
Senyum Yuyun mengembang saat mengamati anak-anaknya yang mencoba mencari ikan di lahan kosong yang berubah menjadi kolam.
[] Tina Suhartini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: