Membeli Buku Demi Sebuah Nilai

Kejadian ini berlangsung pada akhir Januari lalu, ketika masa UAS semester ganjil telah berakhir. Mahasiswa menunggu keluarnya nilai hasil ujian akhir semester. Semua berharap nilai yang keluar bagus. Namun, harapan tinggal harapan. Tidak semua nilai UAS yang keluar bagus.
Bagi yang menerima nilai jelek tersebut, proses perbaikan pun ditempuh. Namun, banyak pula yang langsung menghubungi sang dosen mengenai alasan di balik jeleknya nilai mereka. Salah satunya dialami beberapa mahasiswa semester 5 Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik.
Mengetahui nilainya jelek, mereka langsung menghubungi dosen bersangkutan. Mereka berpendapat, seharusnya nilai yang didapatnya tidak seburuk itu. Setelah diusut, ternyata nilai jelek tersebut hanya diberikan pada mahasiswa yang tidak membeli buku panduan, yang merupakan karangan sang dosen (atau mungkin bisa dibilang sebagai oknum dosen). Oknum dosen tersebut beralasan, salah satu tugasnya adalah membaca buku tersebut sampai mengerti seluruh isinya.
Setelah mengubungi via telepon, mereka disuruh untuk mendatangi oknum dosen di rumahnya. Setelah tiba di rumah dosen tersebut mereka disuguhi buku seharga Rp. 35.000,-. Dengan terpaksa, akhirnya mereka membeli buku tersebut. Akhirnya, nilai UAS yang semula D menjadi B. Perasaan mereka campur aduk. Antara senang dan kesal. Senang karena nilainya menjadi lebih bagus, dan kesal karena uang untuk biaya makan dan ongkos habis hanya demi sebuah nilai.
Pengalaman lebih apes dialami oleh dua mahasiswa Jurnalistik lainnya. Bedanya, sebelumya mereka sudah membeli buku tersebut, namun tidak langsung dari oknum dosen, melainkan membeli di tempat lain. Sayangnya, meski telah membeli buku, nilai kedua mahasiswa tersebut masih jelek.
Untuk memperbaiki nilainya tersebut, mereka harus mengeluarkan empat puluh ribu rupiah untuk membeli buku lain, yang masih karangan sang dosen. Terpaksa, mereka membeli buku tersebut karena ingin memperbaiki nilai. Padahal, buku tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan mata kuliah yang diajarkan. Mereka pun pulang sambil tersenyum kecut atas apa yang telah dilakukan oleh oknum dosen tersebut.
Ironis memang. Padahal visi sebuah lembaga pendidikan adalah menjunjung tinggi nilai kejujuran. Apalagi ini adalah UIN, yang seharusnya kental dengan nilai-nilai keislaman. Namun, mungkin hal itu tidak akan pernah terwujud jika dunia pendidikan selalu dinodai tangan-tangan kotor seperti oknum dosen diatas.**
[] Agus Triana Diansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: