Perang kekuasaan Mahasiswa UIN Bandung

Sistem parlementer masih digunakan dalam Musema. Sebagian mahasiswa menggembor-gemborkan pemilu raya. Bagaimana suasana sebelum Musema digelar?

–Oleh Miftahul Khoer

Senin dini hari 3 Januari 2010. Kampus UIN SGD Bandung tak seperti biasanya. Suara keras motor meraung-raung mengelilingi taman kampus memecah telinga. Para mahasiswa berlalu lalang. Ada yang bermain Skateboard, ada juga yang duduk-duduk sambil membakar rokok di pelataran tiang bendera. Terlihat beberapa Satpam mondar-mandir.

Dua buah bus standby tepat di samping gedung Poliklinik. Para mahasiswa lain juga terlihat sedang kongkow di sebrang jalan. Terdengar dari mereka berceloteh satu sama lain. “ayo siapa yang mau ikut ke Pangandaran, Gratiiiiis.” Kata salah seorang pria, seperti menyindir, diikuti nada yang sama dari yang lainnya.

Waktu terus bergulir. Beberapa menit kemudian puluhan orang datang dari arah area parkir. Bergerombol. Sebagian dari mereka adalah peserta Musyawarah Senat Mahasiswa (Musema) yang akan berangkat menuju Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat. Jam menunjukan pukul dua lebih. Di jalan, Suara motor semakin menjadi-jadi. Beberapa motor Vespa hilir mudik bak sedang balapan di jalan liar.

Peserta Musema masuk ke dalam bus. Sedangkan peserta perwakilan Fakultas Adab dan Psikologi memilih duduk manis di pelataran tiang bendera. Sejumlah mahasiswa lain tampak menghampiri mereka. Setelah itu, Hendra Guntara selaku ketua Senat Adab dan Humaniora berdiri dan meninggalkan tiang bendera itu. “hayu urang baralik! (ayo kita pulang!).” Kata Hendra, diikuti kawan-kawannya.

Pukul 2.53 WIB, masa Forum Demokrasi Kampus (FDK) berkumpul di luar gerbang. Mereka memarkirkan beberapa motornya dan sempat menggeber-geberkannya sebelum ditegur salah satu satpam kampus. Sementara di teras Poliklinik, terjadi perdebatan antara Jatnika dengan Jajang, Hendra, dan Nasir. Perbincangan pun berlangsung alot. Di samping mereka, masing-masing dari teman-temannya sekedar mendengarkan dan melihat perbincangan itu.

Isi perbincangan tersebut mengenai permintaan masa FDK, yang pertama: untuk diadakan pembahasan mekanisme pemilu raya dalam Musema, kedua: tidak menginginkan terjadinya pemilihan ketua Dema baru. dan ketiga: kenapa Musema diadakan di Pangandaran? “bukannya itu hanya menghamburkan dana mahasiswa.” Ucap Hendra yang akrab dipanggil Hegun.

Sedangkan dari pihak Jatnika menginginkan agar Musema ini berlangsung sesuai dengan apa yang telah ditentukan dalam Panduan Organisasi Kemahasiswaan (POK). “Dan mengenai kenapa musema diadakan di pangandaran, itu karena dikhawatirkan bila Musema diadakan di sini tidak berjalan kondusif, dan dana yang telah terpakai harus terbuang sia-sia.” Kata Jatnika sambil duduk di teras Poliklinik.

Pukul 3.21 WIB datang satu mobil polisi menghampiri masa FDK yang sedang berkumpul di depan gerbang kampus. bersamaan dengan itu nampak seorang bapak-bapak kalem berjengot uban, mengenakan topi menghampiri Jatnika. menanyakan kronologis, apa yang terjadi padanya. Jatnika pun menjawab apa adanya. sepertinya pria bertopi ini sangat dihormati rekan Jatnika. terbukti mereka berjabat tangan sambil menciumi tangan si bapak itu.

Kedua pihak menemui jalan buntu. masa FDK mendesak untuk diadakannya sebuah perjanjian tertulis dengan dibubuhi materai. Massa FDK pun meninggalkan Jatnika. “Ari koordinator PMII-na aya (koordinator PMII-nya ada?)” tanya pria beruban tadi pada Jatnika. “Aya tah si Jajang (ada tuh si Jajang).” jawabnya singkat. “Geus weh titah ngobrol jeung si Ami! (sudah, suruh ngobrol saja sama si Ami).” kata bapak-bapak yang mengenakan jaket warna abu ini yang belakangan diketahui adalah ayah Jatnika. Ami adalah ketua Cabang HMI Kab. Bandung.

Tak lama kemudian muncul wanita paruh baya berdaster, dibalut jaket menghampiri Jatnika. Ibu dengan tubuh berisi ini menyuruhnya untuk sekedar membaca doa-doa. Ia pun langsung meninggalkannya. tak lama kemudian pria beruban tadi kembali menghampiri Jatnika. “Hayu lah urang balik, dibabuk ngan ukur ngebelaan nu kieu. tah pake mobil bapak! (ayolah kita pulang, dipukul bela-belain masalah beginian. Nih pake mobil bapak!)” kata ayahnya dengan wajah resah.

Sambil menghisap rokok, Jatnika, calon tunggal ketua Dema ini diboyong oleh orang tuanya. Sebuah mobil Kijang terparkir di depan gerbang kampus. Mobil dinyalakan. Mereka pergi meninggalkan kampus. Beberapa orang, asyik menonton adegan ini.

3.35 WIB, riuh reda masa FDK mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan. Tak lama kemudian Ami memanggil Jajang. Pembicaraan pun berlangsung panas. Ami sempat mengucapkan “itu ngomong dijaga!” sembari memberikan telunjuknya kepada Nasir (salah satu masa FDK) ketika ucapannya rada nyolot.

Di taman kampus, sebuah perdebatan hangat telah dimulai. Ami mengenakan jaket kulit hitam. celana jeans. Di sampingnya duduk seorang pria tegap. Rambut dikucir. Tubuh agak gempal. Namanya Jajang, ketua komisariat PMII UIN SGD Bandung, pria yang ditunjuk oleh si bapak tadi untuk berdialog dengan Ami. Mahasiswa lain ikut nimbrung. Suasana panas.

Poin yang dibicarakan adalah tentang sistem pemilihan ketua Dema dalam Musema. Pihak Jajang menginginkan dalam pelaksanaan Musema itu tidak adanya pemilihan ketua Dema untuk sementara. Mereka menginginkan diadakannya sistem pemilu raya. “jangan dulu milih ketua Dema, kalo milih ketua Dema, jelas ini mencederai kesepakatan bersama. Sudah diadakannya di luar lagi !” kata Jajang.

Sementara Ami bersikukuh bahwa Musema ini harus berlanjut secara prosedural. “perubahan pemilihan ketua melalui pemilu raya itu ada di Musema. Kita telah memberikan penawaran ayo kita sama-sama di Musema. Bagaimana nanti kita membicarakan manfaat madorotnya. Parlementerkah yang akan kita tetapkan, atau pemiliu raya. Kan itu, saya kira dari kemarin-kemarin juga sudah seperti itu. Kalo kawan-kawan ingin memperjuangkan pemilu raya, ya silahkan di musema.” Ucap Ami. “iya kita mendukung tapi menitipkan di Musema. Supaya terjadi pemilu raya.” Lanjut Jajang.

Pembicaraan belum menemukan suatu titik. Masing-masing pihak bersikukuh dengan argumennya. Waktu berjalan pelan. Sesekali dari mereka mengepulkan asap rokok ke langit. Ami tetap pada prinsipnya. “ya, semestinya dengan delegasi kawan-kawan yang percayai.” Kata Ami.

Pernyataan itu dibantah Jajang. “Persoalan kita menarik dari kontek walk out itu, karena kita tidak sepakat, kalo diadakan di sini (kampus) kita ikut.” Bantah Jajang. “sudahlah kita tidak akan menghalang-halangi, silahkan, pokoknya kita merupakan simbol perlawanan, kalo sampai nanti terpilih ketua Dema baru, tanpa sistem yang kita inginkan, yaitu pemilu langsung seperti yang diinginkan seluruh mahasiswa, cuma masalahnya ada yang setengah-setengah ada yang total, gitu. Nah ini pertimbangan kita lah. Kedepan, perlawanan akan semakin gede.” Tambah Jajang.

Pukul 4.05 WIB Ami menyuruh peserta sidang untuk berangkat. namun massa tetap berdiam di mulut gerbang. ketegangan mulai terjadi. Supir bis sempat menolak membawa rombongan ke pangandaran dan menyuruh Ali untuk menurunkan semua penumpang. “sebaiknya anda berurusan sama kantor saja. saya sudah tidak yakin lagi akan aman.” ucap supir bis Kramat Djati itu. Ali (mantan ketua Dema) nampak bingung.

4.20 WIB suasana semakin panas. Salah seorang yang berkumpul di taman berteriak. “kabeh anu aya di bus, turun! (teman-teman yang ada di dalam bis turun semua!).” Sebagian peserta pun berhamburan turun. Ketegangan dimulai. Teriakkan semakin keras. “satu,,,dua,,,tiga,,,seraaaaaaaangggg!” aba-aba untuk melakukan serangan kepada masa FDK terlontar.

Dua kubu saling berhadapan. Gerbang kampus dibuka. Mereka saling mengejek satu sama lain. Namun tidak ada bentrokan. Beberapa Satpam mengamankan. Sebagian masa terlihat di seberang jalan. Beberapa kendaraan yang melintas sempat melirik. Tak lama kemudian suasana reda kembali. Gerbang ditutup.

Masing-masing dari dua kubu, Ami dan Jajang pun berdialog kembali. pihak FDK meminta pemberangkatan ditunda sejenak sampai surat perjanjian ditanda-tangani. Surat pun ditulis oleh pihak FDK di warnet Focus secara mendadak. 4.57 WIB surat perjanjian selesai ditulis dan dicetak tiga lembar. kontan pihak Ami meminta draff perjanjian untuk dipelajari terlebih dahulu.

5.12 WIB surat perjanjian ditanda tangani Asra dari pihak FDK dan Memei dari SC. Poin penting dari isi perjanjian adalah pihak penggugat menginginkan tidak adanya pemilihan ketua Dema. Surat perjanjian ini dibubuhi materai senilai enam ribu rupiah. Sebagian peserta telah masuk ke dalam bus kembali. Sebagiannya lagi terlihat sedang menonton penandatanganan itu di arah jendela sambil sedikit berbincang dengan wartawan Suaka.

“Itu lagi bikin surat perjanjian.” Kata seorang peserta menunjuk ke luar.
“Surat perjanjian apa?” tanya Suaka.
“Iya, perjanjian politik.” Jawabnya.
“Antara siapa dan siapa itu?” Kata Suaka.
“Antara PMII dan HMI.” Jawabnya.
“Kenapa PMII dan HMI?” Tanya Suaka.
“Ya sebenarnya yang jadi konflik itu Ekstra bukan Intranya.” Jawabnya.

5.15 WIB bis diberangkatkan. Pagi merayap pelan. Sinar matahari mulai muncul. Di bus kedua, para peserta tampak lelah. Kursi belakang terlihat kosong. Sebagian peserta memilih tidur-tiduran. Bus segera meninggalkan kampus. Belasan ribu mahasiswa yang lain sepertinya bertanya-tanya Musema ini.milik siapa? []Wicaksono, Miftahul Khoer.

Comments
One Response to “Perang kekuasaan Mahasiswa UIN Bandung”
  1. weart says:

    can diferivikasi keneh??? buru ajarkeun ka barudak nu alanyar meh gantian nglola blog ieu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: