Kisruh Musema UIN Bandung

oleh Fikri Fauzan

Ruangan di lantai dua gedung rektorat akan menjadi saksi bisu berlangsungnya Musyawarah Senat Mahasiswa (Musema) untuk memilih calon Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) baru. Di ruangan itulah, pemimpin baru mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung akan lahir.

Namun hingga waktu yang ditentukan, ruangan tersebut masih kosong. Rupanya para peserta dan peninjau Musema tidak datang tepat waku. Akibatnya, Musema baru mulai sekitar pukul 10.00, molor dua jam dari jadwal.

Pada awalnya, Musema berlangsung baik-baik saja. Namun tiba-tiba menjadi alot saat akan diadakan pemilihan presidium sidang. Sebagian peserta mempermasalahkan dukungan setiap calon presidium minimal 5 orang. Setelah terjadi perdebatan sengit, barulah pada sekitar pukul dua siang presidium sidang terbentuk. Terpilih sebagai Presidium I adalah Bagus dari Fakultas Syari’ah, Khairil Anwar dari Fakultas Adab sebagai Presidium II dan Fadlan dari Fakultas Dakwah sebagai Presidium III.

Persidangan berjalan makin alot saat memasuki Pleno I mengenai pembahasan tata tertib. Saat itu, beberapa peserta tidak menyetujui redaksi kalimat bab 1 pasal 1 poin 1 dalam Draft Musema. Poin yang diambil dari POK ini berbunyi Musyawarah Senat Mahasiswa II (Musema II) adalah forum permusyawaratan tertinggi di tingkat universitas yang diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa.

Beberapa peserta menuntut penghapusan imbuhan “ter” dalam kata “tertinggi” di tata tertib tersebut. Alasan mereka, imbuhan “ter” tersebut terlalu dilebih-lebihkan. Karena alotnya pembahasan poin ini, hingga pukul 23.30, pembahasan tata tertib bab 1 pasal 1 poin 1 ini masih belum menemui titik temu.

Sampai akhirnya datanglah tim aspirator yang terdiri dari perwakilan Dema dan para demonstran untuk mengajukan tiga solusi. Ketiga solusi tersebut yaitu mensukseskan Musema sampai selesai, mendorong pemimpin universitas untuk membuat tim amandemen sistem, dan mendorong Musema lebih aspiratif dalam upaya negosiasi penyelenggaraan perubahan.

Setelah adanya solusi dari tim aspirator, presidium memutuskan untuk menskorsing sidang 2 x 30 menit. Tiga belas peserta sidang, yang merupakan wakil tiap senat dan UKM, mulai mempertimbangkan aspirasi tim aspirator tersebut. Namun karena suasana semakin tidak kondusif, waktu skorsing ditambah lagi 1 x 13 jam, dengan pengecualian terhadap 13 orang tadi. Mereka harus membahas aspirasi tersebut sebelum sidang dimulai keesokan harinya.

Keesokan harinya, Tim 13 berkumpul dan menghasilkan opsi untuk menghentikan Musema hingga LPJ pengurus Dema, kemudian menunda pergantian kepemimpinan dan dibentuk PJS. Kemudian PJS dijalankan setelah ada opsi yang lebih baik. Akan tetapi ketika di serahkan ke forum, ada pihak yang tidak setuju dengan opsi ini.

Sidang pun berlanjut. Pembahasannya masih sama, bab 1 pasal 1 poin 1 dalam tata tertib Draft Musema. Saat itu Presidium I bersitegang dengan beberapa peserta mengenai masalah ini sehingga ingin melakukan voting. Namun, karena beberapa peserta menganggap Presidium I kurang tegas dan terlalu memihak, akhirnya mereka melakukan walk out dari ruang sidang.

“Sejak kemarin, belum ada kesepakatan soal tata tertib bab 1 pasal 1 poin 1 ini. Eh, tiba-tiba saja Presidium I mengetuk palu secara sepihak, padahal saat itu banyak peserta yang interupsi. Padahal kami berharap presidium bisa peka dan bijak menghadapi hal ini. Jika sudah seperti ini, ngapain lagi kami ada di ruang sidang?” tutur Fetty Pamungkasari, delegasi dari Senat Psikologi.

Namun Bagus membantah pernyataan tersebut. Bagus mengatakan, dirinya sudah mengacu pada peraturan yang ada. “Pedoman yang kita pakai adalah POK, karena itu harus kita taati,” kata Bagus.

Suasana semakin memanas setelah seorang peserta melemparkan gelas air mineral ke arah Presidium II. Akibat peristiwa tersebut, Khairil yang terpancing emosinya menendang meja presidium. Kemudian mahasiswa yang biasa dipanggil Aril ini keluar ruang sidang dan menyatakan pengunduran dirinya sebagai Presidium II.

Posisi Aril kemudian digantikan oleh Deris, delegasi dari Senat Tarbiyah, dan sidang kembali berlangsung. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian, massa berusaha masuk ruangan persidangan dengan mendobrak pintu ruang persidangan.

Setelah menghadang pintu ruangan persidangan oleh tumpukan meja untuk menghadang amukan massa, peserta sidang merapat di tengah agar tidak menjadi korban jika terjadi pelemparan.

Melihat keadaan semakin kacau, Pembantu Dekan 3 Fakultas Dakwah dan Komunikasi Ujang Saefullah menenangkan peserta sidang dan mengusulkan sidang ditunda sampai waktu yang belum di tentukan. Kemudian untuk menjaga keselamatannya, akhirnya peserta sidang dievakuasi.
Menanggapi kekisruhan ini, Ketua SC Memey Saepudin menyatakan pihaknya sebenarnya sudah berusaha mengantisipasi dengan dikerahkannya keamanan. “Tapi massa terlalu banyak,” ungkapnya.
Hingga kini belum ada kejelasan kapan Musema akan kembali dilaksanakan. Menurut Memey, Musema ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan. “Bisa dalam beberapa hari, minggu, atau bahkan beberapa bulan lagi. Tapi kami usahakan secepatnya,” ujar Memey.**

(Laporan: Suherlan, Godi, Firman, Riza, Iyan, Tina, Fikri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: