Buntut Panjang dari Sebuah Nilai

oleh Fikri dan Dodi

Ini kisah tak sedap yang muncul dari kalangan masyarakat akademik UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Berawal dari sikap seorang mahasiswa yang tidak menerima keputusan dosennya, dan berujung pada kasus caci-maki terhadap sang dosen oleh mahasiswa tersebut. Bahkan, pencacimakian tersebut ikut membawa tuduhan serius yang bisa berujung pada pencemaran nama baik: ada indikasi jual-beli nilai di kalangan para dosen.

Kasus ini dimulai ketika seorang mahasiswa yang akan mendaftar ujian komprehensif, meminta perbaikan nilai kepada Cecep Suryana, salah seorang dosen jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Namun, Cecep enggan langsung memberikan nilai kepada mahasiswa yang namanya dirahasiakan atas permintaan pihak jurusan KPI ini.

“Seharusnya dia meminta nilai dari dulu, bukannya saat akan mengikuti ujian komprehensif. Namun, dia memberikan alasan yang tidak bisa diterima seperti hilangnya nomor kontak saya. Karena itu saya menyuruhnya mengikuti prosedur yang ada, yaitu mengisi KRS dan mengulangi perkuliahan itu lagi,” ujar Cecep.

Tidak menerima dengan pernyataan Cecep, mahasiswa tersebut mengirim sebuah SMS kepada Ketua Jurusan KPI Enjang AS. Pesan singkat tersebut berisi tentang cacian terhadap Cecep dan menuduh dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi bisa diajak melakukan jual beli nilai.

Enjang yang tidak mengetahui kejadian sebenarnya, memberitahu Cecep tentang sms yang dikirim oleh mahasiswa tersebut kepadanya. Setelah Cecep menjelaskan kronologi kejadiannya, Enjang memutuskan untuk bertemu langsung dengan mahasiswa tersebut dan menyelesaikan masalah ini. Beberapa hari kemudian, orangtua mahasiswa bersangkutan mendatangi pihak jurusan KPI.

“Sekarang masalah ini sudah selesai. Sudah ada permintaan maaf dari mahasiswa bersangkutan dan orangtuanya. Sebenarnya saya marah karena menyangkut nama lembaga. Namun, saya ingin meyelesaikan secara profesional. Jadi saya tidak memberi sanksi apa pun kepadanya dan justru sedang mencarikan beasiswa buat dia, karena setelah berdialog ternyata saya ketahui dia berasal dari keluarga yang kurang mampu,” kata Enjang.

Sayangnya saat Suaka ingin meminta kepastian tentang masalah ini, mahasiswa bersangkutan tidak bisa dikonfirmasi.

Jual Beli Nilai

Peristiwa ini berbuntut pada merebaknya isu jual-beli nilai yang dilakukan oleh dosen-dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Seperti yang dikatakan Enjang, dalam pesan singkat mahasiswa tersebut menuduh ada oknum dosen yang melakukan transaksi nilai dengan para mahasiswa. “Namun saat kita berdialog dengan mahasiswa tersebut, dia hanya bilang ‘cenah’ (katanya, red) dan tidak memiliki bukti konkret,”
“Seharusnya dia jangan bersikap seperti itu. Apalagi menyinggung masalah jual-beli nilai dikalangan dosen tanpa ada bukti, ini kan penecemaran nama baik terhadap dosen bersangkutan. Tadinya kami akan melaporkan hal ini pada pihak berwajib, namun kami urungkan. Untunglah sekarang masalah ini sudah selesai,” lanjut Enjang.

Mengenai ada tidaknya jual-beli nilai antara dosen dan mahasiswa, Enjang menampiknya. “Setiap fakultas di UIN sudah memakai sistem komputerisasi untuk urusan nilai, sehingga tidak mungkin ada nilai yang bebas keluar masuk. Selain itu, sebelum perkuliahan dimulai, mahasiswa diwajibkan mengisi dulu KRS. Fungsi KRS adalah untuk mengeliminir hal seperti itu,” ungkapnya.

Berbeda dengan Enjang, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Dadan Suherdiana menyatakan dirinya tidak menutup mata dengan adanya fenomena jual-beli nilai. Menurut Dadan, jual-beli nilai ini sudah ada sejak lama. Namun, biasanya kasus ini dalam bentuk membeli buku dosen. Jika tidak membeli buku, maka nilai mahasiswa tersebut tidak akan keluar.

“Jika ada oknum-oknum yang tertangkap sedang melakukan jual-beli nilai, prosedurnya kita panggil dosen yang bersangkutan dan meminta konfirmasinya. Apabila terbukti benar, kita akan mengurangi jam mengajar dosen agar tidak intensitas bertemu langsung dengan mahasiswa berkurang, atau mengalihkan dosen tersebut ke dalam penelitian. Kita tidak mempunyai wewenang untuk mengeluarkan dosen karena keputusan mengeluarkan dosen datang dari Departemen Agama,” kata Dadan.

Untuk mengatasi agar hal ini tidak terus berkelanjutan, kata Dadan, pihak fakultas dan jurusan telah melakukan berbagai antisipasi, salah satunya adalah memberlakukan kepada setiap dosen untuk mengembalikan blanko nilai tepat pada waktunya dan menghimbau mereka untuk tidak mengkosongkan nilai bagi mahasiswa.
Selain itu, harus ada kejujuran dari kedua belah pihak untuk mencegah kecurangan-kecurangan ini terjadi. Hal ini dikarenakan faktor pengawasan yang belum begitu ketat dalam manajerial nilai akademik di kampus ini.

Terlepas dari setuju atau tidaknya para pejabat kampus tentang adanya transaksi nilai, masalah ini harus lebih ditelusuri lebih dalam. Jika memang tidak ada, maka antisipasi mesti tetap berjalan agar tetap tidak terjadi. Namun jika ada, maka harus ada tindak lanjut yang tegas dari pihak berwenang terhadap para pelakunya.

(Kru liputan: Dodi, Femi, Dwi Farah, Nora, Nurhikmah, Husna)**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: