Berani Tampil Beda

oleh Yang Puteri dan Aida

Apakah kalian termasuk civitas kampus yang berani tampil beda? Misalnya ke kampus berani memakai sendal jepit ala swallow sampai ke sendal party ala high-hill? Atau bagi kaum Adam, rambut diwarnai biar terkesan keren? Atau juga bagi kaum Hawa yang kuliah sampai berani memakai baju yang berlengan ¾ agar terkesan modis, memakai jilbab dengan poni yang sengaja diperlihatkan alias kerudung berponi? Atau bahkan kamu malah punya tampilan sendiri yang lebih nyeleneh dari semua yang telah disebutkan di atas tadi?

Mengenai hal tersebut, kru Fresh telah mewawancarai beberapa narasumber di kawasan kampus yang berpenampilan beda atau bahkan nyeleneh. Salah satunya adalah Lia, mahasiswa jurusan Sosiologi. Ia mempunyai penilaian sendiri tentang gaya kerudung berponinya.
“Biar agak modis aja, terus menyesuaikan juga dengan wajah. Wajah aku kan bulat, jadi supaya gak terlihat, lagi pula belum pernah ada dosen yang menegur. Di Sosiologi mah emang agak bebas juga, makanya teman juga banyak yang pakai kerudung berponi. Jadi, sebenarnya selain ingin tampil modis, ya ikut-ikutan temen juga sih,” katanya.

Berbeda dengan Eka Dwi Satya, salah satu mahasiswa jurusan Jurnalistik. Ia mengatakan kecanggungannya saat memakai baju lengan seperempat. “Tapi yang penting nyaman, enggak cuman ngikutin trend karena ngelihat orang pakai baju kayak gini aja, lagi pula enggak ditegur sama dosen, jadi biasa aja. Sebenarnya ada sih teguran, tapi dari temen bukan dari dosen,” ujarnya.

Lain lagi dengan salah satu mahasiswa jurusan BSI yang enggan disebutkan namanya, ketika kru Fresh bertanya alasan kenapa memakai sandal saat mengikuti perkuliahan, dengan santai ia menjawab, “Aku tahu sih sebenarnya gak boleh pake sendal kayak gini, tapi gimana ya, habis nyaman sih dan emang udah kebiasaan, lagi pula dosen juga kayaknya tidak terlalu mempersalahkan. Buktinya mereka cuek bebek aja walaupun aku pake sandal kayak gini,” katanya.

Tak kalah berani beda, kru Fresh juga menemukan sekelompok civitas kampus kaum Adam di mana mereka sangat menikmati penampilan dengan rambut yang memang sengaja mereka warnai. Alasan mereka pun satu sama lain tidak telalu jauh, yakni agar terkesan gaul dan ternyata mereka belum pernah mendapatkan teguran dari dosen atau civitas kampus lainnya.

Dalam menanggapi gaya penampilan mahasiswa yang berbeda, Yaya Suryana, salah satu dosen di Fakultas Tarbiyah mengatakan motif mahasiswa yang berpenampilan beda dan nyeleneh diantaranya dia ingin MPO (Mencari Perhatian Orang lain). “Atau dia hanya ingin ikut-ikutan mode yang trend sekarang ini,” katanya.

Menurut Purwanti, salah seorang mahasiswa jurusan BPI, “Justru hal tersebut sedikit demi sedikit mengikis nilai-nilai islami di universitas ini. Jika tetap dibiarkan, mereka akan semakin berani dalam berpenampilan yang nyeleneh. Memang sangat diherankan padahal UIN memiliki peraturan yang begitu ketat tetapi nyaris banyak yang tidak ketahuan orang -orang yang melanggar tata tertib kampus.”

Pernyataan tersebut diperkuat dengan pendapat yang diutarakan salah satu dosen di fakultas MKS, Iwan Setiawan. “Sanksi ada, cuman penerapannya kurang maksimal. Mungkin untuk saya pribadi sudah menerapkan sanksi tersebut tetapi tidak tahu kalau dosen yang lain. Saya selalu mengeluarkan mahasiswa yang melanggar aturan dalam berpakaian,” ujarnya.

Tata Tertib Mahasiswa
Jika sudah berbicara masalah kewajiban, kampus UIN SGD Bandung memiliki aturan tersendiri tentang tata tertib busana bagi mahasiswanya. Dalam SK. Direktur Jendral Pendidikan Islam No. Dj. 1/255/ 2007, satu butir di antaranya membahas tentang tata tertib busana yang seharusnya diaplikasikan di kalangan civitas kampus.

Butir tersebut berbunyi bahwa civitas kampus dilarang memakai kaos oblong / tidak berkerah, celana / baju sobek, sarung, sendal, topi, rambut panjang dan atau bercat, anting-anting, kalung, gelang (khusus laki-laki), memakai baju dan atau celana ketat, tembus pandang, dan tampa berjilbab (khususnya perempuan) serta tato dalam mengikuti kegiatan akademik, pelayanan administrasi, dan kegiatan kampus.
Selain itu, dalam buku panduan mahasiswa BAB VI Pasal 7, dijelaskan tentang pemberian sanksi bagi yang melanggar.

Sanksi tersebut dilalui dalam tahapan-tahapan yaitu teguran lisan, teguran tertulis, pengiriman surat peringatan, larangan mengikuti kegiatan akademik, hingga dinyatakan tidak berlakunya nilai-nilai yang diperoleh selama mengikuti kegiatan akademik dan diusulkan kepada Rektor untuk dicabut status kemahasiswaannya dari UIN SGD Bandung.

Untuk pelaksananya, setiap fakultas memiliki Tim Penegak Sanksi masing-masing. Tim ini diketuai oleh Pembantu Rektor III (bidang kemahasiswaan) dengan anggota-anggotanya yang ditunjuk dan dikukuhkan oleh Dekan Fakultas.

Menanggapi hal tersebut Endin Nasrudin, selaku Pembantu Rektor III menyatakan tata tertib mahasiswa telah disosialisasikan di setiap fakultas oleh Pembantu Dekan III, karena mereka yang lebih berkenan. “Adapun tentang banyaknya mahasiswa yang tidak tahu tentang tata tertib mahasiswa, bukan berarti karena kurangnya sosialisasi tapi memang sosialisasi tersebut harus lebih ditingkatkan,” ujarnya.**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: