Senja Hari yang Gelisah

Oleh Fifit Ramdhan Nugraha dan Ujang M.

Tahun ini, memang awal Ramadhan di negeri seribu pulau berlangsung serempak. Yaitu Hari Senin, 27 Oktober 2003. Namum di penghujung bulan pun, masih menunggu kepastian. Akankah perbedaan dulu terulang kembali?

Langit Pelabuhan Ratu baru saja melepas Maghrib. Sabtu senja, rombongan itu mulai meninggalkan bangunan tingkat dua di sebuah bukit, di Kampung Salagedang, Desa Cidadap, Pelabuhan Ratu. Di antara rombongan itu nampak Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat Khalilurrahman dan Hakim Pengadilan Agama Cibadak-Sukabumi Muhammad Syamsudin serta Pakar Ilmu Hisab KH. Makmur. Selain itupun anggota Hisab-Rukyat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Drs Encup Supriatna M.Si dan beberapa tokoh Ormas Islam dari berbagai daerah turut menghadiri acara yang dirancang oleh Menteri Agama Prof. Dr Said Agil Al Munawar.

Dari raut muka rombongan terlihat pancaran kegembiraan dari rona mata mereka. Pasalnya, harapan yang dinanti-nantikan terwujud sudah. Sabtu petang 25 oktober itu, diputuskan bahwa di daerah Pelabuhan Ratu hilal tidak akan nampak. Alhasil, awal bulan Ramadhan, ternyata sesuai dengan perhitungan yaitu jatuh pada hari senin, 27 Oktober. Namun di tengah-tengah kebahagian itu, sang menteri tak nampak hadir.

“Alhamdulillah, sekarang puasanya barengan. Nggak ada yang beda kaya tahun-tahun kemarin,” kata Enung, salah satu perempuan yang turut menyaksikannya dengan nada gembira. Hal inipun sangat dirasakan langsung oleh Dadan, akhirnya pria usia kepala dua itu bisa lega, karena menurutnya tahun ini pelaksanaan awal puasa dilaksanakan secara serentak. “Jadi tidak bingung karena adanya perbedaan waktu puasa yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya mengenang.

Melihat hilal di Pelabuhan Ratu itu, rupanya prakarsa dari Jakarta. Khalilurrahman dalam pidato sambutannya mengakui, hal ini merupakan wujud nyata dalam mengikuti sunnah Nabi. “Inilah saya kira perintah Rasulullah bahwa ketika kita akan mengawali ibadah puasa hendaklah kita lakukan kegiatan untuk melihat hilal,” kata Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat.

Hal itu diamini K.H Makmur, seorang pakar hisab. Hadirnya diacara sini, menurutnya tiada lain hanya untuk memastikan dan menjalankan sunnah rasul. Karena berdasarkan perhitungannya, hilal masih di bawah ufuk, yaitu kira-kira –2 derajat 18 menit 53,67 detik. Jadi, tidak mungkin hari itu bisa melihat hilal. “Maka kita di sini hanya melaksanakan perintah rasul untuk melihat hilal pada tangal 29 sya’ban,” jelas lelaki paruh baya itu.

Memang, beberapa hari sebelum pelaksanaan rukyatul hilal, telah terjadi kesepakatan diantara ormas-ormas Islam, bahwa awal Ramadhan tahun 1424 H akan jatuh pada tanggal 27 Oktober 2003 M. “Berdasarkan hisab, tanggal 29 sya’ban nanti hilal belum nampak. Nah, kalau belum terlihat berarti jangan seharusnya kita melaksanakan puasa pada hari minggu. Jadi harus hari berikutnya,” tegas Encup Supriatna saat ditemui SUAKANEWS di salah satu ruangan Fakultas Syari’ah, IAIN Bandung.

Umat Islam di Indonesia boleh bergembira bahwa akhir bulan Ramadhan atau awal syawal 1424 H, diperkirakan tidak terjadi perbedaan. Pasalnya berdasar perhitungan, konjungsi akan terjadi pada pagi hari, sekitar 5 derajat. Tapi, itu tidaklah menghapus kekhawatiran umat Islam akan terulang lagi perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Berdasarkan catatan, setidaknya di Indonesia telah terjadi beberapa kali perbedaan baik awal maupun akhir Ramadhan selang medio 1990-2003 yaitu, tahun 1992, 1993, 1998 dan 2002.

Ketika ditanya mengenai seringnya terjadi perbedaan di kalangan umat Islam, menurut Encup bahwa perbedaan itu terjadi dalam bidang ilmu falak yaitu antara hisab dan rukyat. Karenanya ada ulama yang lebih cenderung pada hisab, sehingga hisab itu dianggap lebih penting. Namun ada juga ulama yang kecenderungannya pada rukyat. Kedua pandangan ini tentunya bukan berarti tanpa alas an yang dapat dipertanggungjawabkan. Toh, sama-sama ada dasarnya.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, menurut dosen syariah itu, hilal bisa dilihat. “Nah, li ru’yatihi itu bi ma’na, kalau menurut ilmu hisab, fak duruuna minal hisab bi hisaabihi, artinya dengan ilmu pengetahuan,” kata dosen fakultas Syari’ah ini. “kenapa tidak menggunakan ilmu pengetahuan. Kalau toh ilmu pengetahuan dapat menunjang pada hal tersebut kenapa tidak digunakan,” lanjutnya dengan nada bertanya.

Menggunakan ilmu pengetahuan (hisab), memang tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah. Sebab dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan, Rasulullah, dengan “pengetahuannya” pada saat itu, langsung melirik bulan di sebelah barat. “Karena di sana (Arab. Red) itu sangat mudah untuk melihat hilal. Jadi, belum ada hitung-hitungan,” ujar Encup menambahkan.

Permasalahan Kriteria

Akar permasalahan terjadinya perbedaan awal dan akhir Ramadhan ini, terletak pada kriteria ukuran tinggi hilal. Dalam hal ini, Muhammadiyah menetapkan rentang 1 derajat bagi wujudul hilal atau patokannya moon set setelah sun set. Sementara yang lain, Departeman Agama, punya ukuran lain yaitu minimal 2 derajat atau 5 derajat bagi astronomi.

Misalnya perbedaan yang terjadi pada tahun 2002 kemarin. Penetapan awal syawal lalu berbeda karena dikalangan umat Islam masing-masing mempunyai ukuran tersendiri. Bahkan, Badan Hisab dan Ru’yat di Pengadilan Tinggi Agamapun yang merupakan kumpulan ulama lintas paham tak bisa mencegah terjadinya kembar Idul Fitri. Buktinya, jatuhnya 1 Syawal 1423 H berbeda jelas, ada yang hari kamis, 5 Desember 2002 dan hari jum’at, 6 Desember 2002.

Padahal, hasil hitungan itu sebenarnya tak banyak selisih walaupun dengan menggunakan kitab berbeda. Hari penanggalan bulan baru itu memang sama, yakni Rabu, 4 Desember 2002. Waktu ijtimak yang merupakan pertanda awal lahirnya sang hilal, kalau pun berbeda, hanya selisih tipis, sekitar jam 14.15-15.17. Derajat ketinggian hilal pun tak jauh berbeda. Ukuran terendahnya yaitu 0,27 , sementara yang tertinggi 1,37 derajat. Namun yang membedakan hanya pada kesimpulan akhir.

Bagi organisasi yang didirikan K.H Ahmad Dahlan itu, mengambil 1 syawal hari kamis yaitu 5 Desember 2002 menetapkan, posisi ketinggian hilal 0,27 derajat dan yang tertinggi 1,37 derajat sudah termasuk kriteria wujudul hilal. Sedang lainnya mengatakan, posisi hilal masih terlalu kecil. Muhammadiyah, sebagaimana keputusan Musyawarah Tarjih 1932 menegaskan bahwa datangnya awal bulan bukan hanya dengan rukyat, tapi juga dengan hisab. Hisab biasa berdiri sendiri sebagai sumber pengetahuan datangnya Ramadhan dan bulan-bulan Qamariyah lainnya. Ini berbeda dengan NU yang menyatakan hisab hanya sebagai pembantu rukyat.

Muhammadiyah mendefinisikan hisab sebagai perhitungan astronomis tentang posisi hilal. Namun, hisab tidak mungkin membuat keputusan tanpa adanya kriteria yang disebut hilal. Tidak ada satu dalilpun dalam hadits atau Al-qur’an yang menyebutkan secara tegas apa itu hilal yang bisa diterjemahkan secara kuantitatif dalam kriteria hisab.

Menurut pendekatan astronomis, hilal adalah penampakan bulan yang paling kecil yang menghadap bumi beberapa saat setelah ijtimak. Inilah yang kemudian menjadi kriteria hisabnya bahwa awal bulan baru ditandai dengan wujudul hilal. Tandanya adalah bila matahari terbenam lebih dulu daripada bulan.

“Hilal tadi kita mendefinisikan dalam ilmu astronomi adalah sabit bulan paling tipis atau paling kecil yang masih dapat dilihat dengan mata manusia dengan jelas oleh lensa matanya, baik orang Arab maupun orang Indonesia nggak ada suatu perbedaan yang berarti” kata Moedji Raharto.

Muhammadiyah telah berijtihad mengambil hisab secara mandiri tanpa tergantung rukyat secara fisik (bil fi’li). Sebab menurut organisasi ini, rukyat telah direpresentasikan dalam bentuk kriteria wujudul hilal. NU sebagai ormas Islam berhaluan ahlussunnah wal jamaah berketetapan mencontoh Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikuti ijtihad para ulama madzhab empat antara lain Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali.

Disisi lain, dalam penentuan bulan, Nahdatul Ulama menetapkannya secara rukyatul hilal bil fi’li, yaitu melihat hilal secara langsung. Bila berawan atau menurut hisab hilal masih di bawah ufuk. Mereka tetap merukyat, tiada lain untuk mengambil keputusan dengan menggenapkan (istikmal) bulan yaitu menjadi 30 hari. Demikianlah ketentuan hilal yang diyakininya. Hisab hanya sebagai alat bantu, bukan sebagai penentu masuknya awal bulan Qamariah. Umat Islam bingung. Kesepakatan sampai saat ini belum terlaksana.

Sementara itu, para pakar astronomipun tetap bersikukuh, batas ambang visibilitas hilal yaitu lebih dari 5 derajat. Namun menurut pakar Astronomi dari ITB itu, mengatakan bahwa dalam penetapan penampakan hilal waktu harus tepat dengan terbenamnya matahari, posisi bulan, cuaca dan lainnya. Setidaknya menurutnya ada dua kriteria astronomi agar hilal dapat terlihat. Pertama, ketinggian hilal.

Memang dulu disepakati 7 derjat dari ufuk, tapi sekarang 5 derajat. Namun itu bukan satu-satunya ukuran yang bisa dipakai. Kedua, yaitu menyangkut kedudukan bulan terhadap matahari yang tidak boleh kurang dari 7 derajat. “Sebab, kalau lebih dekat dari itu, bayangan bulan kalah oleh terangnya cahaya matahari” jelas Moedji.

Berbagai perdebatan terus saja berlangsung. Sampai saat ini belum ada kesepakatan di antara ormas-ormas Islam maupun dengan para pakar astronomi tentang kriteria ketinggian hilal yang sudah bisa dikatakan memenuhi visibilitas hilal. Ego masing-masing golongan nampaknya masih melekat.

Selepas Magrib itu, nampaknya membawa kebahagian bagi Enung dan Dadan. Keduanya turut menyaksikan langsung peristiwa penting yang digelar setahun sekali. Terlebih lagi, kecerian nampak pada rona komandan Pengadilan Tinggi Jawa Barat itu sembari membuka pintu Kijang super berwarna biru. Satu jam sudah mereka gelisah di Pelabuhan Ratu, tiada lain untuk memutuskan awal bulan yang penuh berkah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: