Sejumput Fakta Tanpa “Prasangka”

Oleh Ekos Koswara

Mencari informasi yang benar bukanlah perkara gampang. Disinilah sang kuli tinta di tuntut untuk bekerja secara proporsional dan profesional. Namun kepentinganpun tak luput darinya. Untuk siapa?

Jalan menuju kantor perwakilan redaksi Tempo tampak sepi. Hanya kendaraan milik pribadilah yang dapat melewatinya. Udara Bandung saat itu cukup sejuk. Pasalnya pohon-pohon besar yang berderet rapi dan rindang membuat suasana terasa segar. Tak jauh dari Graha Manggala Siliwangi majalah berita mingguan itu beralamat. Tepatnya di jalan Aceh no. 56. Didepannya terlihat sebuah papan nama berwarna setengah merah dan setengahnya lagi berwarna hitam.

Bangunan bercat putih berukuran tidak begitu besar itu. Nampak seorang perempuan berusia kepala empat tengah duduk dimeja sebelah pojok kiri ruang tamunya sembari membaca koran. Dengan mengenakan baju kaos berwarna hitam langsung menyapa SUAKANEWS dengan nada datar yang berkunjung untuk sebuah wawancara. Wanita kelahiran kota kembang ini,merupakan salah satu wartawan dari majalah mingguan itu.

Dengan saban hari aneka berita terus mengalir seakan tak mau berhenti. Tentunya tak ada kata ketinggalan informasi. Sebab berita-berita itu sangat mudah didapatkan. Suguhan beritanya sangatlah beragam, mulai persoalan yang kecil hingga besar. Namun penyajiannya, tentu tak lepas dari bumbu yang sesuai dengan selera media itu sendiri. Kini hal itu menjadi sebuah kebutuhan yang amat penting bagi masyarakat. Apalagi bagi para kuli tinta, setidaknya menjadi sebuah kewajiban.

Untuk menyuguhkan sajian informasi itu, tentunya butuh kemampuan dan juga keahlian. Sebab pekerjaan ini bukanlah perkara yang dianggap enteng. Menurut Rini, tugas seorang wartawan tiada lain hanya mewartakan suatu kejadian. Terkadang berita dari sebagian wartawan tidak sesuai dengan kenyataan alias bohong. “Dan yang penting apa yang didapat itu yang dilakukan, kalau itu layak diberitakan dan buat apa kita mendramatisir keadaan” katanya dengan nada resah beberapa waktu lalu pada SUAKANEWS.

Selain itupun menurut anggota AJI ini, seorang wartawan harus mempunyai tanggungjawab moral dalam melakukan peliputan. Pasalnya, tak sedikit media yang mengabaikan persoalan ini. ”Saya pikir yaa ada juga…” ujarnya melanjutkan. “Biasanya media-media itu, sepertinya belum statis dan mapan, dalam arti segi moral”tambahnya menjelaskan

Disamping itu pemberitaan media, memang tak luput dari yang namanya kepentingan. Dalam perkembangannya menurut Dedi Jamaludin Malik, hal itu, karena media telah terkooptasi oleh kepentingan tertentu. Karenanya media akan sulit untuk independen. ”Dengan kepentingan-kepentingan itu, posisi dan peran media tidak indenpenden lagi” kata ketua STIKOM Bandung dengan nada santai.

Dengan meledaknya peristiwa bom yang menimpa negeri seribu pulau baru-baru ini. Ternyata menjadi lahan media untuk adu kekuatan. Dalam laporan majalah Pantau edisi Januari 2003 lalu, Atma Kusumah Astraatmaja, menawarkan dua pilihan yang mesti dilakukan oleh media, pertama melakukan investigasi dan kedua menjalin hubungan dengan polisi. Kedua pilihan ini tentunya bukan sebuah harga mati. Namun demikian setiap media dalam melakukan peliputan, perangai dan senjata telah terpasang rapi.

Persoalan media, memang menarik dan unik. Sebab ia bisa menjadi alat untuk mewujudkan keinginan kelompok tertentu. Karenanya tuntutan dari masyarakatpun tak bisa dielakan lagi. Oleh karena itu menurut Dedi, media harus mampu membangun hubungan dengan masyarakat secara dinamis.

Setidaknya ada timbal balik antara keduanya, “artinya harus ada gerakan-gerakan masyarakat yang melakukan komplain terhadap laporan media, agar ia tak seenaknya” ujarnya tegas. Dengan demikian menurut komandan STIKOM itu, masyarakat harus melakukan kontrol terhadap media.

Sementara itu, laporan-laporan media bukan macan ompong yang akan menerkam mangsanya. Pasalnya laporan yang disuguhkan itu sangat dipengaruhi oleh kebijakan redaksional. Apalagi persoalan teroris yang tengah dialamat pada kelompok-kelompok Islam. Para jurnalispun segera melakukan penelusuran terhadap persoalan-persoalan teroris itu. Bukan berarti tanpa membawa titipan dari meja redaksinya.

Kejadian naas di pulau Dewata itu, bak petir disiang bolong. Peristiwa itu, kontan saja mengundang perhatian mata dunia. Semuanya mengecam dan mengutuk. Perbuatan keji itu, setidaknya merenggut lebih dari 200 nyawa yang tak tahu apa-apa. Air matapun bercucuran tak tertahan. Apalagi laporan media terkesan mendramatisir tragedi kemanusiaan itu.

Peristiwa ini, rupanya tengah menjadi perhatian khusus media hingga kini. Dengan kejadian semacam itu kemampuan media dalam peliputan akan teruji. Dilapangan merekapun bersaing dan berlagak. Medan pertempuran tengah terbuka lebar. Senjatapun dipersiapkan dengan matang. Namun bukan sebilah golok dan pedang atau senjata api. Melainkan kejelian dan kecerdasan para jurnalis. Kode etikpun dijadikan ukuran.

Pasalnya para pelaku yang telah menjalani hukuman itu, semuanya beragama Islam. Namun mereka bukan tak beralasan melakukan hal itu. Karena atas nama jihadlah mereka berani melakukan tindakan tersebut. Untuk melacak jaringan-jaringannya pun tentunya bukan perkara yang gampang untuk ditembus.

Karena itu, rapat-rapat redaksi atau diskusi lainnya segera digelar tanpa kenal lelah. Di sana semua persoalan diperdebatkan lalu membuat keputusan lewat sang pimpinan sidang. Perencanaanpun tersusun dengan matang. “perdebatan itu bertujuan untuk memenimalisir keberpihakan” kata Rini Srihartini. “disana semua persoalan diputuskan secara aklamasi” tambahnya lagi.

Sementara lain, Media Indonesia yang dikomandani Surya Paloh. Media yang mengklaim diri dengan kata lugas dan tegas itu rupanya kegerahan dengan serangkaian tindakan teroris. Karenanya media ini harus bersikap tegas. Pasalnya dengan kebijakan yang di akui Abdul Kohar, memang jelas. Buktinya dengan rubrik editorial. Dirubrik ini, menurut kepala biro Bandung, selalu mengingatkan cara-cara yang digunakan Amerika dalam memberantas teroris.

Selain itupun ia menuturkan, dalam setiap pemberitaan selalau berusaha untuk menghindari penyebutan atau penyimbolan terhadap kelompok tertentu. “Jama’ah Islami’ah dalam konteksnya, kita sebut seperti ‘organisasi yang disebut-sebut PBB’, misalnya begitu” katanya mencontohkan

Memang hingga kini, dilapangan organisasi Jama’ah Islami’ah, belum ada yang dapat membuktikan keberadannya. “Kalau dilapangan masih bingung menyebut yang dikatakan Amerika sebagai jema’ah, karena sampai saat ini, belum ada bukti-bukti yang meyakinkan bahwa yang disebut jama’ah islam itu benar-benar ada.” ujar Khohar, salah satu wartawan yang meragukan keberadaan organisasi yang disebut-sebut Amerika.

Sebab, menurutnya Jama’ah Islam dapat diartikan sebagai organisasi yang memiliki struktur rapih. Selain itupun juga masih menurutnya, kondisi dilapangan banyak sekali menemukan kejanggalan-kejanggalan dalam praktek-praktek pengungkapan terorisme di Indonesia

“Kalau menurut saya harus ada workshop wartawan dalam konteks menjernihkan persoalan terorisme ini, misalkan bisa dimulai di IAIN, karena menurut saya di IAIN karena ia memberikan perspektif keragaman pemikiran Islam yang lebih kondusif. Dibanding kelompok-kelompok lain, karena tidak semua wartawan tahu dilapangan bahwa mereka itu teroris beneran atau sebagai korban” paparnya dengan mengusulkan

Setidaknya dengan penamaan kelompok tersebut, bagi yang awam bisa meresahkan. “Seperti mengatakan radikalisme Islam, kelompok radikal itu kita menyebutnya kadang-kadang, mereka itu radikalkah, militankah, atau kelompok itu hanya sekedar kelompok muritan. Ini yang kalau kita tidak paham tentang sosiologi umat Islam Indonesia seperti ini bisa menyesatkan. Tapi kalau kita tahu tentang dimensi sosiologi umat Islam, misalnya kita bisa membedakan mana yang radikal, militan, atau konfigurasinya seperti apa” jelasnya lagi.

Syahdan, penamaan kelompok tersebut merupakan akal-akalan Amerika. Sebelum peristiwa itu muncul penamaan itu tidaklah begitu populer. Karenanya media secara tidak sadar turut mempropagandakan penamaan itu. Oleh sebab itu media merupakan alat propaganda yang sangat efektif. “jangan lupa bahwa media itu alat propaganda yang sangat efektif” tandas Nurbayanti.

Untuk pembentukan image, memang media itu efektif. Sehingga orang-orang bisa takut dengan orang Islam sendiri. Sebab pencitraan yang dibuat oleh kelompok tertentu sangat mempengaruhinya. Pelabelan teroris yang tengah dialamatkan terhadap kelompok Islam itulah dan mediapun terkesan mengikuti arus. “Padahal itu belum tentu karena propaganda oleh pihak lain dan dalam propaganda seribu kali kebohongan diulang-ulang bisa menjadi kebenaran” kata Jamaludin Malik.

“Disitulah bahwa media masa sekarang karena sudah bias dengan kepentingan kapitalis, pemilik modal, atau politik tertentu seperti Amerika dan Barat. Bagaimana media barat mencitrakan fenomena orang-orang Islam, perilaku Islam kedalam jargon-jargon yang negatif misalnya sebutan teroris atau dulu Imam Khumaeni sebagai pemimpin yang haus darah. Jadi digambarkan dengan nama-nama buruk itu dalam rangka mendesakralisasikan yaitu kekuatan-kekuatan yang ada dalam Islam” Malik menambahkan

Bagi Pikiran Rakyat persoalan ini tentunya, perlu penyikapan yang betul harus hati-hati sehingga tidak ada yang diuntungkan oleh pemberitaan media. “Kami sebagai koran umum, tentunya mendapat keberimbangan tentang teroris tapi di lain pihak pikiran rakyat juga melihat realitas jumlah pembaca kita yang mayoritas beragama Islam” kata Widodo.

Oleh sebab itu menurut pemimpin redaksi harian itu, dalam pemberitaan mengenai terorisme ini harus dengan hati-hati. ”jangan sampai disatu pihak,dalam hal ini pemerintah kita ingin memberantas teroris itu kita tidak dukung dan pihak lain jangan sampai menyinggung umat Islam. Jadi harus kita cermati apakah istilah terorisme ini milik umat Islam, ternyata enggak juga” kata pria kelahiran Klaten itu.

Koran milik masyarakat Jabar itu, bertekad untuk memberitakan persoalan teroris ini secara profesional. Sebab persoalan ini tengah menjadi santapan sehari-hari. Lagipula media lainpun tak pernah luput memberitakan tentang teroris, seprtihalnya yang dilakukan Tempo, Republika dan juga Media Indonesia. “Kita tetap memberitakan soal teroris ini, tapi dengan penuh kehati-hatian yang sungguh-sungguh” kata Widodo Atmowiloto.

Tuduhan yang dialamatkan pada kelompok-kelompok Islam radikal atas berbagai peristiwa pengeboman di negeri bekas jajahan belanda ini setidaknya membuat pemerintah waspada. Pengamananpun tengah disiagakan di tempat-tempat vital.

Salah satu yang dilakukan media dalam mengupas persoalan ini adalah membuat laporan mendalam. Sehingga penelusuran terhadap kelompok-kelompok yang dianggap biang kerok itu dilakukan walaupun memakan waktu relatif panjang. Setidaknya penulusuran itu terkesan adanya keberpihakan media.

Namun menurut komandan STIKOM, hal itu bukan berarti penyudutan tetapi itu merupakan upaya penyelidikan. “apakah betul atau tidak, dan persoalannya adalah bagaimana media itu mengupas persoalan terorisme itu secara profesional sampai ketemu kebenarannya” jelas pria berkaca mata itu diruang kerjanya.

Lain halnya bagi Republika. Media yang mengatasnamakan Islam itu tetap berupaya mempertahankan misinya. “Republika dari awal memang sudah visi misi untuk kaum muslim. Koran untuk umat islam” tutur Aan Nurbayanti

Menurut kepala redaksi republika Biro Bandung itu, korannya tetap akan membela kepentingan-kepentingan umat Islam, apalagi persoalan teroris yang selalu dikaitkan dengan kelompok-kelompok Islam. “Peran republika disitu. Siapa sih yang bisa bela umat Islam kalau bukan umat Islam sendiri. Republika dengan visi misi korannya tiada lain untuk umat islam, kalau komunitas islam teror, sepakat itu tidak bisa ditolelir” tambah wanita yang selalu berkerudung itu.

“Islam adalah rahmatanlilalamin, kita mencoba menjadi koran yang paling tidak menyerap itu kalau ada yang enggak bener, kita coba lurusin yang bener itu kayak gini, kalau yang melakukan orang Islam itu berarti oknum” katanya lagi.

Media sebagai sarana propaganda yang efektif tentunya memiliki kepentingan dalam melakukan liputan. Dengan demikian pemilihan nara sumber dan datapun tak bisa dielakan lagi. Sebab menurut Aan, laporan media kemungkinkannya berupaya menyudutkan kelompok tertentu salah satunya kelompok yang di Islam.

“bagi saya apa yang diungkapkan tempo itu bisa menurut orang Islam, seolah-olah Tempo itu menyudutkan Islam tapi mereka yang Amerika pun seperti menyudutkan Amerika juga, jadi tergantung orang melihatnya dari sisi mana? tapi Tempo juga mungkin tidak terlalu Islamnya fundamental, mungkin Islamnya lebih moderat dan terbuka sehingga tidak ada kecenderungan lebih tajam tentang Islam” kata wartawan majalah berita mingguan itu.

Namun, menurut Dien Syamsudien tidak sreg dengan media yang mengaitkan persoalan teroris dengan Islam. Pasalnya menurut Dien, Islam sama sekali tidak mentolelir tindakan teroris. “Terorisme tidak ada dalam Islam, jadi kita menolak untuk mengaitkan persoalan ini dengan Islam. Maka kepada pers dan juga kepada pihak-pihak lain untuk tidak mengaitkan dengan islam, semisal untuk penggunaan istilah jama’ah Islamiyah (JI) atau dengan nama Islam lain sebagainya” jelas Sekjen MUI Pusat itu.

Menurutnya hal ini akan mengganggu proses dakwah Islam. “Sekarang tidak lagi kita bisa angkat hadir “bentuklah jamaah atau rahmat Allah atas jamaah” karena adanya stigmatisasi itu, saya melihat kalau masih pers bandel atau juga pihak lain mengait-ngaitkan dengan Islam, itu pertanda dari kurangnya rasa sensitivitas antara umat Islam dan memungkinkan terjadinya gejala “islamofobia” rasa benci terhadap umat Islam” kata Dien menambahkan.

Dalam melansir informasi. Media banyak mengambil dan juga mengutip keterangan yang bersipat formal, salah satunya pihak kepolisian. “Kita percaya pada Polisi yang memang profesional dibidangnya” jelas Atmowiloto. Menurut kelahiran suku jawa itu, bahwa kemungkinan pendapat-pendapat perkara teroris ini bisa bermuatan politik.

“ya.. kita lihat, apakah memang betul demikian? Kadang-kadang informasi semacam itu kita anggap sebagai bahan masukan yang harus digunakan secara bijaksana dan dewasa. Dan tidak gampang untuk dijadikan bahan berita kalaupun ya… itu betul-betul berdasar pertimbangan yang matang. Harus ada konfirmasi pada nara sumber yang berkompeten dan berwenang dibidangnya” katanya lagi menjelaskan.

Karakter media tentunya tak bisa sama satu dengan lainnya. Seperti halnya dengan nara sumber yang diwawancarainya. Misalnya pikiran rakyat yang mempercayai keterangan dari pihak kepolisian. “Polisi sebagai alat negara itu bisa menelusurinya. Kita percaya pada Polisi yang memang profesional dibidangnya” pemimpin redaksi koran itu.

Mengutip keterangan-keterangan resmi, tentunya tak jadi soal. Sejauh bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Oleh karena itu pembuktian kebenaran informasi adalah paling esensial dalam dunia jurnalisme. Pelacakan terhadap kebenaran itu baik berupa pernyataan ataupun berupa dokumen, merupakan langkah yang mesti dilakukan media.

Dalam hal ini seperti yang ditulis Eryanto dimajalah Pantau, di Jakarta Kompas lebih memilih keterangan polisi. Sebab hal terkiat dengan kebijakan redaksi yang cenderung hati-hati. Tak hanya polisi, kelembagaan negara dan partaipun menjadi sasaran.

Sebab boleh jadi kondisi dilapangan ada keterangan yang bertentangan. Selain merekapun para saksi, korban dan pelaku sekalipun adalah sumber yang tak bisa diabaikan begitu saja. “Bagaimana kita mengungkapkan fakta tentang itu secara jelas” kata Srihartini. Misal ”kalau Imam Samudra bilang begitu, ya…begitu kita tulis” mencontohkan.

Namun penelusuran langsung kelapangan adalah paling penting. Menurut Atmowiloto terjun langsung kelapangan merupakan keharusan bagi seorang wartawan. “Kalau itu kejadian dilapangan, pertama kita ingin lihat faktanya seperti apa, misal tingkat kerusakan,itu harus menyaksikan langsung, tetapi tidak cukup pada hasil pengamatan” tandasnya

Kecepatan berita, nampaknya menjadi prioritas. Apalagi media yang terbitnya harian. Sehingga hal ini menjadi kendala tersendiri. Seperti harian Republika, Pikiran Rakyat dan juga Media Indonesia. Hal inipun diakui oleh kepala redaksi harian Republika , Biro Bandung. “Karena harian, jadi harus langsung dan cari yang informasi terbaru. Kalau mingguan, itu bisa direncanakan” akunya.

Walaupun terbitnya harian menurut Khohar informasi yang didapatkan tak mesti ditelan bulat. “Kita harus skeptis artinya tidak boleh menelan bulat-bulat informasi itu” ujaranya. Hal inilah yang perlu dilakukan oleh wartawan saat melakukan peliputan. Lagi pula, dalam persoalan semacam ini, menurut Abdul Khohar, pers tidak boleh terbawa arus semacam itu. Di samping itupun,“pers itu tidak boleh menjajah pembaca dengan informasi sepihak” jelas lelaki yang selalu berjaket hitam itu.

Tentunya dalam persoalan teroris ini. Media satu sama lainnya saling menjajal kemampuanya di arena pertarungan. Adu kekuatanpun rupanya tak akan pernah usai. Pasalnya dengan saban hari berita yang muncul dari media begitu variatif, menunjukan pertarungan itu tengah berlangsung.Lalu siapa yang menjadi wasitnya?. Walaupun begitu, berita-berita media itu tetap mengalir deras seakan tak berhenti. Lantas kemana berita itu mengalir? Amiah

Comments
One Response to “Sejumput Fakta Tanpa “Prasangka””
  1. SUAKA, sukses terus!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: