Miris

oleh Wicaksono

Rabu, 27 mei aku melihat sekerumunan masa berkumpul di gedung student center uin. Suara sorak sorai soundsystem memeriahkan suasana. Kakiku mulai masuk dan menginjak gedung tersebut. Posisiku semakin mendekati kerumunan. Namun juga belum kutahu ada apa gerangan. Pandanganku kontan berlarian mencari tahu. Ke kanan dan ke kiri.

Anak-anak kecil berlari dan berkejaran. Nampak riang mereka semua. Mereka nampak cantik dan tampan dengan balutan pakaian yang modis. Kulit wajah dipenuhi bedak. Bibir penuh gincu. Ada apa gerangan?

Oow, ternyata terdapat stage dengan karpet merah, mungkin itu yang disebut ‘cat walk’. Anak-anak kecil dengan dandanan menor berjalan monndar mandir di atasnya. Orang tua mereka memberi support. Bener-bener terlihat menggemaskan.

UPTQ uin sedang menyelenggarakan berbagai lomba. Salah satunya adalah perlombaan busana muslim anak. Berbagai perlombaan disebar di berbagai tempat yang berbeda. Ada yang di gedung student center, masjid dan aula utama kampus. Entah kenapa aku nggak begitu suka dengan perlombaan yang diadakan di student center ini.

Anak-anak kecil dipaksa berlenggak-lenggok di atas cat walk. Prestasi anak yang idealnya dikompetisikan di bidang akademik atau kreasi seni. Justru perlombaan ini mengajarkan budaya ‘POP’ sejak dini kepada anak. Budaya POP yang hanya berpikir bagaimana bisa menghibur berbagai kalangan dengan tanpa mengindahkan esensi yang akan disampaikan, memang semakin digemari.

Anak-anak masa kini diarahkan untuk memiliki cita-cita ingin menjadi model atau artis top dunia. Bukan berprestasi di bidang akademik atau sains. Bahkan menjadi olahragawan kelas dunia. Bukan bercita-cita menjadi ilmuan. Bukan pula bercita-cita ingin menjadi pemimpin negara dan lain sebagainya.

Sungguh miris memang, bila kita melihat organisasi yang berkedudukan di dalam dunia akademis namun mengajarkan budaya POP kepada anak sejak dini. Apalagi bila acara itu diselenggarakan hanya untuk menghibur civitas kampus. Sungguh akan sangat saya kutuk bila acara ini hanya untuk kepentingan profit oriented. Janganlah kalian mengeksploitasi anak-anak kecil untuk meraup keuntungan.

Doaku…

“Semoga panitia acara ini tidak bermaksud demikian. Amin….

Kamis, 27 mei 2009

Comments
One Response to “Miris”
  1. Reza says:

    Wah kata siapa kegiatan semacam modelling atau lomba fashion begitu bukan prestasi akademik…. Apalagi disebut dieksploitasi. Yang namanya dieksploitasi itu apabila tenaga sang anak disalahgunakan untuk kepentingan orang dewasa, seperti orangtuanya. Lagi pula, modelling seperti itu salah satu bakat anak yang harus diarahkan sejak dini, selama itu bukan bentuk pemaksaan kehendak –kata bang Wicak mah eksploitasi.

    Budaya pop tidak selalu bernilai jelek. Karena bagus dan buruk sangat relatif. Budaya pop bisa jadi sarat esensi, seperti modelling yang dilombakan UPTQ itu. Apalagi lombanya busana muslim, bisa jadi salah satu pembiasaan diri bagi sang anak untuk mengenakan busana muslim. Setidaknya pelajaran bagi sang anak bahw busana muslim sekarang sudah populer dan biasa digunakan sehari-hari.

    Buat Admin ::::
    Kalo bisa tag atau kategorikan dengan jelas ya, mana berita, feature, opini, dan advertorial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: