Sirkus

Oleh Miftahul Khoer

Hari ini cuaca mulai tak bersahabat. Pertengahan April 2009 kondisi sebagian tubuh mulai mencair di lubang hidung. Tapi secangkir kopi menemani dinginnya pagi ini. Saya sadar ini biasa terjadi jika menjelang pergantian musim. Mungkin musim hujan akan segera berahir. Dan hari-hari panas akan menjemput kita. Dan mungkin juga ada pihak yang setuju dan protes dengan pergantian musim ini. Para petani sepertinya menghendaki hujan membasahi perkebunan dan pertanian mereka. Tapi buat anak kos, hujan menjadi musuh jemuran mereka. Dan para Cleaning Service, harus bekerja ekstra membersihkan alas kaki nakal para mahasiswa.

Beberapa pekan lalu, di kampus kita tercinta ini ada pertunjukan ‘Sirkus’ hebat yang digelar para mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tepat di perayaan hari jadi UIN yang katanya ke 41 tahun ini. Padahal usia IAIN ke UIN masih seumur jagung yang baru nongol bunga-bunga mekarnya.

Ratusan mahasiswa berkumpul dan berbaris sambil melontarkan yel-yel menggigit untuk para birokrat kampus yang kata mereka suka berbohong dan pandai ‘bermain pingpong’, saling melempar kesalahan sesama para pejabat kampus sendiri.

Ada dua masa aksi saat itu. Masing-masing seolah berlomba meraih masa dengan orasi-orasi yang mengebu gebu. Menyuarakan nada perlawanan terhadap oknum birokrasi. Padahal kalau saja mereka bersatu, mungkin aksi mereka akan semakin kuat ya? Tapi gak tahu juga sih. Yang jelas ini atraksi yang patut ditonton. Sampai ada adegan adu fisik segala antara pihak keamanan dan para demonstran.

Kalau melihat hal ini, saya jadi teringat dengan penggalan salah satu puisi yang ditulis seorang aktifis juga penyair radikal Wiji Thukul:

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Ya, mungkin saja para mahasiswa itu tengah mengeluh dengan kondisi kampus yang sudah gawat ini. Soalnya aksi mereka itu cenderung klasik. Mengangkat masalah yang itu-itu juga. Tentang Praktikum, Ikomah, Poliklinik sampai kualitas Asisten dosen. Sampai sekarang cuma beberapa masalah yang sudah beres. Kabarnya sebagian dana Ikomah akan dibelikan sebuah mobil ambulan. Dan masalah yang lainnya, mending coba Tanya langsung aja pada atlit ‘pingpong’ itu. Mungkin mereka tahu.

Puisi diatas adalah salah satu penyebab kenapa Thukul menghilang begitu saja, Saat pemerintahan Suharto yang terkenal memberangus dengan kebijakan-kebijakan jahanamnya, mereka menculik beberapa tokoh dan aktifis yang dinilai mengganggu dengan aksi-aksinya yang menghujat atas nama anti Suharto. Sampai sekarang Wiji Thukul tenggelam di telan waktu.

benar juga apa yang dikatakan Thukul dalam puisinya itu. Kebenaran akan terancam jika omongan penguasa dibantah. Saya jadi riskan tentang lontaran-lontaran mahasiswa sekarang. Saya takut kebenaran mereka digadaikan. Soalnya saya sempat mendengar kabar ketika mereka usai melakukan aksinya, mereka didatangi oleh salah satu pejabat. Takutnya mereka itu dibungkam dengan sesuatu gitu, tapi gak tau juga sih, mudah-mudahan para mahasiswa ini betul-betul murni membela mahasiswa. Membela kebenaran. Semoga saja mereka tidak diculik sama pejabat kampus. Jangan sampai terjadi.

Hmm… kopi terus aku santap dengan perlahan. Harumnya menusuk hidung yang lagi Flu ini. Tak lupa sebatang rokok sisa semalam saya bakar, sambil menunggu siang untuk pergi kuliah. Benar juga, sepertinya hari ini mulai cerah mungkin juga awal kemarau. Tapi saya sempat berfikir, mudah-mudahan pergantian cuaca ini bisa merubah pula cuaca UIN yang dulunya IAIN. Mudah-mudahan UIN secerah mentari pagi yang sedang saya rasakan ini dan tidak segelap ruangan ini yang sudah setahun, saya dan teman-teman rela bergelap gulita. []

Comments
One Response to “Sirkus”
  1. andreas says:

    Wiji Thukul, Tonggak Diaspora Sastra Indonesia

    Bila Rahman (Pemred Horizon) mengatakan sejak tahun 2000-an sastra mengalami perluasan pembaca, maka saya ingin meletakkan itu jauh lebih dini sebelum tumbangnya Soeharto. Saya meletakkannya pada sosok bernama Wiji Thukul penyair kerakyatan (dan juga barisan seniman ‘underdog’, ‘tak bernama’ di pelosok-pelosok negeri ), yang puisinya merentang dari tahun 1987 hingga 1997 sebagai tonggak atau peletak batu penjuru demokratisasi sastra (keseniaan), diaspora sastra.

    Silah kiunjung
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/04/wiji-thukul-tonggak-diaspora-sastra.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: