Cokelat Afrika

Oleh Miftahul Khoer

Rabu 22 April, jarum jam melebihi pukul 14.00. saya keluar dari Suaka sejenak, sekedar membeli rokok dan sebungkus kopi yang tersedia di mini market Koperasi Mahasiswa. Diluar terlihat orang-orang yang sedang berbelanja buku murah yang dikemas Islamic Book Fair ala Kopma. Aneh juga memang, tempat para aktifis mahasiswa–Student Center (SC) ini di jadikan ajang mencari duit oleh segelintir Unit Kegiatan Mahasiswa. Tapi tak apalah, saya tak pedulikannya.

“mas ini berapa jadinya. Sampoerna Kretek dua batang, Nescafe satu, Sukro Satu.” Kataku.

“jadi dua ribu lima ratus.” Jawabnya sederhana.

Tanpa berdiri lama saya melangkah kembali ke Suaka. Gelas plastik disiapkan, Lalu saya masukan dengan Nescafe yang saya beli. Dan mengaduknya perlahan. Kopi yang harum. Memanjakan lidah saya untuk segera menyedotnya. Nikmaaaaat benar. Alamaaak mantap kali hari ini. Maknyus.

“assalamualikum.” Kata Sindi tiba-tiba datang ke Suaka. Segera saya membalasnya dengan jawaban biasa. “waalaikum salam.” Sindi langsung duduk dikursi depan yang pendek. Ia mengutak atik handphone-nya, mungkin ia sedang sibuk mencari gelombang radio di hapenya itu. Soalnya saya harus beberapa kali mengulang kata-kata jika sedang bicara dengannya. Mungkin kupingya fokus sama telefon genggamnya.

Sindi datang untuk ikut acara diskusi yang diadakan Suaka tentang carut marutnya pemilu kemarin. Memang udah basi sih, tapi emang asyik juga untuk diikuti. Sindi langsung menawari saya sebuah cokelat, katanya oleh-oleh dari Afrika yang dibawa kakak iparnya.

“mau donk.” Seloroh saya.

Hmm… saya tak menyianyiakan. Cokelat langsung saya telanjangi. Lalu kumasukan kedalam mulut. Wow, minta ampun enaknya. Benar, ini cokelat rasanya export banget. Jadi ketagihan nih. Pengen coba lagi. tapi di kantong Sindi, kayaknya cokelat terahir.

Diluar terlihat Nora, Nuri dan Ilma sedang asik memilih buku. Padahal hujan jatuh dari langit agak merapat kencang. Tak kenal kompromi. Tapi mereka dan pembeli yang lainnya seperti tak menghiraukannya. Untung saja jualan bukunya di SC, kalo di luar, wah udah pada basah tuh buku-bukunya. Dan Sindi masih betah dengan handphone-nya.

Waktu terus merayap perlahan. Satu persatu peserta diskusi berdatangan. Hujan masih menetes dengan cuma-cuma. Kopi terus saya sedot. tak lupa kepulan asap saya keluarkan dari mulut. Sore yang nikmat. Apa lagi hujan, menambah sempurna dengan kepulan-kepulan yang menjalar kearah jendela. Saya duduk di kursi yang panjang. Yang pendek cuma satu. Sebenarnya ada dua sih tapi lagi di pinjam sama anak PBI yang lagi menggelar the tenth SAEED anniversary. Sampai sekarang kursi tak kunjung kembali. Benar-benar peminjam yang tidak bertanggung jawab.

Asap saya kepulkan keatas. Rokok yang pas buat sore ini. Sampoerna kretek is my best friend cigarette. You are my soul mate baby.

Satu persatu anak-amak SUAKA berdatangan. Indah, Aida, Nurhikmah, Hari dan kawan-kawan diam sejenak di ruang tamu SUAKA. Jam udah berjalan menuju sore. Hujan masih gerimis.

“ayo kita mulai, udah pada datang tuh.” Kata saya mengawali.

Anak-anak pun masuk ke ruang utama SUAKA. Ruang tempat istirahat kami yang terdapat dua buah kasur yang sudah beberapa tahun tak kami cuci. Tapi itu tak jadi soal. Yang penting kami bisa tidur dengan nyaman. Dan yang pasti ngorok sampai terdengar ke tetangga.

Iyya mulai bicara membuka acara. Para anggota SUAKA duduk dengan khidmat mendengarkan makalah yang ditulis Fikri. Tema yang diusung kali ini adalah “Nyontreng Ajang Untuk Golput?”. Fikri bicara dengan nafas yang khas. Para peserta diskusi menyimak dan sedikit manggut-manggut. Sebenarnya acara diskusi itu buat melatih bicara orang-orang di Suaka, tapi kok kayaknya mereka masih malu-malu kucing.

Kopi tinggal sedikit lagi. mungkin tiga sedotan juga sudah raib. Tapi saya masih menghisap sisa rokok yang masih setengah batang lagi. konon kata orang, yang paling nikmat dari rokok itu justru detik detik terakhir menuju puntung. Wah masa sih?.

Rasa cokelat masih menempel di lidah. Hisapan terakhir saya kepulkan dengan sangat penuh kekhusuan. Perlahan saya mengepulkan asapnya. “puaaaaaaaaaaahhhhhhhh.” Dan terlihat sebagian para peserta diskusi menggerakan tangannya mengusir asap yang saya kepulkan. Hmm… mudah-mudahan Sindi bawa cokelat lagi besok. []

Comments
One Response to “Cokelat Afrika”
  1. Jeni says:

    wah kayaknya enak nih makan cokelat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: