The Power of Udud

Oleh Wicaksono Arif Tur Brilian

Kenalkan, namaku Budi. Orang banyak kenal aku sebagai ketua lembaga pers mahasiswa. Bangga dong!!. Memang benar, tapi itu dulu. Sekarang aku ngerasa seperti sekar nista. Ga ada penampungan lagi. Asbak, tong sampah bahkan leuwi gajah pun tak menghendaki.

“Aduh, kenapa tiba-tiba perutku mual. Masa iya, aku hamil?”

“Ah mungkin Cuma gara-gara sambalnya si emak1.”

Padahal lagi pewe –posisi wuenak- berseloroh dengan anggota baru lembaga pers mahasiswa ini. Ya, tentunya ngobrol di sekre lah, masa di hotel???

Bergegas aku keluar ruangan dan mencari sandal kotak-kotakku yang ku parkir di depan pintu sekre. Tapi kok ga seperti biasanya. Sepertinya telah terjadi tindak pidana pencurian sepasang sandal butut.

“ah, biarin ajah. Nanti juga ada.”

Tanpa alas kaki. Langkahku fokus menuju lubang pembuangan kotoran. Tempat itu kini terasa jauh. Apa mungkin, karena aku punya keperluan yang mendesak? Sungguh misi ini terasa berat.

“Auuwww.”

Aku terleset di depan kantor DEMA, karena lantai licin terguyur hujan. Mukaku kontan memerah melihat bibir-bibir tersenyum padaku. Tapi demi misi yang harus berjalan lancar, semuanya tak ku indahkan. Sekuat tenaga aku berusaha untuk bangkit.

Aku kembali mengambil ancang-ancang untuk berlari. Dengan sedikit akselerasi di tikungan terakhir, aku pun tiba di tempat yang aku tuju. Namun apa daya tangan tak sampai, ternyata tengah terjadi antrian panjang di situ. Terpaksa aku harus memutar haluan.

Langsung terbersit kata MAHAPEKA, yang terkenal sebagai lokasi pembuangan limbah. Tancap gas, dengan kecepatan seratus lima puluh kilometer per jam, aku sampai di lokasi kurang dari lima menit. Syukur alhamdulillah kosong. Segera kututup pintunya. Kubuka yang harus dibuka. Dengan hati-hati kuselamatkan sake2 –Sampoerna Kretek- yang masih terjepit di antara jari tengah dan telunjuk sedari tadi.

Kupindahkan sake ke rongga mulutku. Sambil kuperhatikan tubuhku yang setengah telanjang, kuhisap dalam-dalam sakenya. Dengan pose kuda-kuda “khas” warisan nenek moyang, limbah pun keluar beserta aroma yang khas pula. Tapi aroma itu tak begitu terasa karena telah terkontaminasi dengan asap sake yang kuhembuskan.

“ternyata sake dapat sedikit membantu, kala dibutuhkan”. Lirihku dalam hati.

Meski aku tengah berada di ruangan yang luasnya tak lebih dari 1 x 1 meter namun tetap senang. Hanya sake yang mau menemaniku jatuh terpeleset, malu, hingga duduk di atas closet.

“Semua yang tercipta atau sengaja dicipta pasti memilki makna, tak seorangpun berhak mendiskreditkannya.”

“wahai manusia yang sombong, segeralah berkaca!!!”

Tak selamanya racun itu merugikan….

Pesan dari penjual rokok….!!

Comments
2 Responses to “The Power of Udud”
  1. amzatnika says:

    dan ketika dirasa racun itu akan membunuh…. maka terlambatlah untuk disadari bahwa kesenangan dan kebiasaan bersama-sama racunlah yang akan membunuhmu…

    pa kabar boss?

  2. zakii says:

    mak nyos .
    sekalian link balik ia boz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: