Samar-samar

Oleh Godi Rangga Budi Anshary

Kepulan asap terlihat samar-samar di atas ruangan itu. Ruangan itu memang tak punya sekat yang jelas antar ruangan lainnnya. Satu ruangan dengan sekat tidak permanen, dengan luas 12 X 10 meter ruangan tersebut menjadi sebuah ruang yang mengawali ide yang sangat banyak sehingga tak semua ide tersebut menjadi sebuah konsep tertulis atau tidak hanya menjadi sebuah saksi yang bisu.

Tak berharap banyak pada mahasiswa mungkin menjadi ungkapan yang pasti terlontar jika menjadi mahasiswa, sikapnya tetap saja menjadi mahasiswa dengan gelar mitos yang selalu dipegangnya ‘social agent of change.’ Berubah memang menjadi kewajiban bagi semua orang bahkan untuk masyarakat yang bernama mahasiswa seolah menjadi strata baru bagi masyarakat yang sangat heterogen.

“Cing atuh mana rokokna!” ujarnya santai. Merokok memang identik dengan bangsa ini. Bahkan demi pajak saja rokok yang jelas tercantum sebagai racun masih saja menjadi konsumsi masyarakat yang heterogen itu, ‘tak lelah mungkin’ menjadi jargon yang sangat paradok, di satu sisi mahasiswa yang dikatakan penerus bangsa ini, sebagai agen pembaharu, katanya hanya lelah untuk berubah mungkin.

Tapi ‘mungkin’ hanya dalam konsep yang mengawang tak sempat untuk tertulis bahkan menjadi aksi nyata strata masyarakat tersebut, masyarakat terdidik katanya.

“Susah maju!” mungkin tepat sekali potongan sebuah lirik yang dapat menjadi refleksi nyata dari bangsa ini semakin tinggi saja nilai rangking negara kita dikelas negara korupsi di dunia ini, mungkin makin merah juga nilai rapornya, semerah warna hutan yang tadi malam terbakar.

Mungkin variabel yang sangat pekat antara mahasiswa yang konon sebagai agen perubah bangsanya, kebiasaan merokok yang memasyarakat, tingkat kemajuan pendidikan dan rangking negara tukang korupsi di kelas dunia.

Tak dapat dipungkiri jika semua hal adalah akumulasi dari hal sebelumnya dan begitu juga sutu hal menyebabkan hal lainnnya. Mahasiswa yang konon katanya sebagai agen perubahan, tapi perubahan tersebut ada dua sisi seperti uang kertas, sisi satu sebagai perubahan yang positif, sering kali mahasiswa berkata lantang “perubahan!” tapi perubahan yang bagaimana dan relevan sebagai bentuk nyata tanggung jawab sosial untuk merubah hal negatif menjadi positif. Tapi positif bagi siapa? mungkin terus bertanya siapa? untuk siapa? siapa yang diuntungkan? hanya menjadi wacana ditengah senja menunggu malam sehingga larut dan menghilang dengan konsep dan ide yang tak akan menjadi kenyataan.

Sering kali wacana hanya menjadi wacana “Mari kita rubah bangsa ini,” merubah apa? siapa? untuk siapa? dan banyak lagi macamnya, mungkin sikap apatis telah menjadi sebuah sikap yang nyata bukan samar-samar lagi tak dipungkiri jika masa depan itu ada tapi yang cerah atau yang kelabu bukan menjadi sebuah masa depan yang baik untuk anakku lahir dan menjadi penghuni negeri ini. “tak usah dari yang besar tapi mulailah dari yang kecil” ujarnya santai tapi yang yang kecil sekecil apa? yang besar, sebesar apa? mungkin tapi mungkin itu menjadi problem yang menjadi misteri dikemudian hari ketika sebuah wacana berubah menjadi konsep, konsep menjelma menjadi tulisan, tulisan menjadi kegiatan nyata bukan hanya kegiatan yang membicarakannya saja.

Verifikasi, atau sebuah pengkajian ulang atas sebuah hal, namun apakah semua hal dapat diverifikasi seperti tuhan? orang tua kita? presiden? bahkan rektor. Seharusnya sifat verifikasi itu mutlak digunakan bagi semua manusia, mungkin karena itulah alasan tuhan membuat manusia untuk melaksankan verifikasi sehingga tuhan membuat suatu hal menjadi tidak hanya sebatas menjadi wacana.

Membuat manusia mungkin kehendak tuhan, tapi kehendak yang bagaimana? Begitu juga terciptanya mahasiswa yang terlahir dari rahim manusia yang heterogen, terlihat seperti biasa, namun apakah menuasia yang bernama mahasiswa tersebut mempunyai misi yang mulia dari tuhannya, yang konon katanya sebagai agen perubah bangsa ini. Kelam memang jika melihat masa depan dengan mata tertutup tapi apakah mahasiswa sebagai manusia yang matanya sedikit terbuka atas pendidikan yang terlihat kelam tersebut dapat membimbing masa depan bangsa ini menjadi masa depan yang gilang gemilang.

Sungguh telah merugi manusia yang telah melahirkan mahasiswa, terlihat seperti apatis mungkin tapi mahasiswa dengan mental kotoran, jejak yang sama dengan binatang dan haus akan maksiat hanya kan membuat dunia ini semakin sempit. Rugi memang menjadi gelar bagi orang tua mahasiswa dengan gelar yang sangat tinggi namun tak sanggup untuk menanggungnya, dengan mental pekerja dan cita-cita untuk bekerja tak akan merubah bangsa ini, dengan fisik yang buruk akibat banyak bergadang sehingga tulangnya terlihat dari jarak puluhan meter ketika dipandang orang tuanya, didekati bau rokok yang tajam akan nikotin dan tar. Sering kali mereka tak peduli dan memupuk terus rasa ogis dan superior “Aku mahasiswa jika tak ada racun dalam tubuhku aku akan kehilangan ideku,” ujarnya lantang tapi seiring dengan datangya ide kesesatan mulai datang dengan biusan ego dan racun yang hinggap dalam masa tua yang akan membuat sadar ketika dokter melarangnya karena tak sanggup untuk memperbaiki alat pernapasanya. Tak masalah jika hanya terjadi pada mahasiswa namun jika populasi mahasiswa setara bahkan menjadi identitas mayoritas sebuah masyarakat akan kah kebiasaan menghisap racun terhenti untuk memasyarakat.

Kesadaran mungkin menjasdi tolak ukur untuk sebuah taraf pendidikan yang akan menjadi pilar untuk terus kokoh berdiri, namun jika kesadaran tersebut mulai goyah karena pondasi awal yang diisi oleh pendidikan mulai rapuh dan terserang penyakit kehilangan kesadaran, “egois!” ujarnya.

Telah lelah mungkin untuk mendidik dan memberikan pendidikan karena ego telah memupuk penyakit kesadaran yang dimiliknya, hingga mahasiswa kurang terdidik dan sulit untuk mendidik, egonya saja yang tinggi dan susah untuk menerima hal lain selain dari egonya. Pendidilkan yang muram telah menjadi wajah yang samar samar di masa lalu tapi sekarang lebih jelas terlihat, dekat sekali di mata, tubuh dan pikiran.

Wajah pendidikan yang muram tersebut telah menjadi tanggul yang kokoh untuk menahan penyakit untuk mengalir dan hilang, tanggul tersebut mengakumulasi dan menjadi endapan yang jelas hinga terlihat bahwa tanggu tersebut telah menjadi daratan dan penuh oleh penyakit yang telah membatu. Penyakit pendidikan telah menjadi lahan yang jelas bagi manusia penyakit untuk hidup dan terus bereproduksi hingga menjadi masyarakat penyakit dan menjadi populasi mayoritas di lingkungannya.

Terlihat jelas dan bukan asmar-samar, tertera dalam rangking negara tukang korupsi yang dibuat oleh manusia penyakit dengan rangking yang tinggi dan ego yang telah dipupuk sedari kecil dan memasyarakat tampaknya bukan tempat yang cocok untuk anakku lahir dan mendidik anakku untuk hidup penuh kesadaran dan latar pendidikan yang kuat hingga anakku tak bisa berdiri dan membuat masa depannya sendiri.[]

Penulis adalah mahasiswa MKS semester 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: