Rokok Kanto

Oleh Tina Suhartini

Asap mengepul keluar dari hidung serta mulutnya, sebatang rokok kretek terselip di jarinya yang mulai renta. Udara malam yang gelap dan dingin membuat kepulan asapnya dari jauh bagai hawa panas naga yang siap menyemburkan api. Kanto begitu orang menyebutnya, Sukanto nama panjangnya. Kerjaannya hanya melamun dan menertawakan serta memarahi para politikus yang selalu muncul di TV.

“haaah.. kapan negeri ini bisa maju kalo orang yang mimpinnya bodoh semua..” keluh kanto yang saat menyaksikan berita di TV. Ceu Minah hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah suaminya itu. Menurut dia suaminya lebih bodoh dari seluruh orang di dunia karena tidak bisa menghasilkan duit sehingga membuat ia dan keempat anaknya menderita.

Kanto menghabiskan paling tidak 4 bungkus rokok sehari, tak main-main pula merk rokok yang ia hisap, merk paling mahal diantara merek rokok yang biasa saya jual di kios.

“Neng Ratih! biasa…” Kali ini kanto mendatangi kios yang memang saya buka selama 15 jam sehari untuk biaya adik saya sekolah.

“yang kemarin juga belum di bayar kang…Ceu Minah juga sudah gak mau bayar” jawab saya yang sudah bosan dihutangin rokok.

“eeehhh.. kita itu harus saling menolong, masa neng gak mau Bantu saya?” jawabnya selalu sok bijak.

“yah maaf-maaf aja kang, saya juga kalo dihutangin terus kapan mau dapat duit? kan si Ridho mesti sekolah, musti dibayar juga, gak bisa ngutang” keluh saya.

“memang, sekolah sekarang mahal, apa-apa mahal! Gimana mau maju negeri ini kalo sekolah aja dimahalin….” Kanto mengeluarkan semua pendapatnya di depan kios saya.

Entah keberapa kali hal itu terjadi, saya selalu merasa diceramahin oleh orang yang sok tau. Saya dan Ridho anak yatim, saya sudah tamat SMP dan tak bisa dan memang tak berniat melanjutkan sekolah. Ibu sudah tua, sedang menunggu ajal, penyakit TBC-nya tak kunjung sembuh. Bapak entah pergi kemana, kami sudah menanggap dia mati. Ridho, sekarang kelas 3 SMP, sebentar lagi lulus. Saya sedang menabung agar Ridho bisa melanjutkan sekolah ke STM dekat rumah, biar setelah ia lulus bisa bekerja di bengkel Haji Dahlan.

“Haaah, saya tak suka sama politikus negeri ini, selalu aja ngurusin duit…” Kanto tak jua pergi dari kios saya, sebagian warga menyebut Kanto stress.

“iya kang…” jawab saya yang sudah bosan.

Kanto, entah apa yang dia pikirkan. Istrinya kerja keras jadi buruh pabrik. 3 shift ia jalani, belum pula ia mengurusi anak ketiganya yang kena polio dan down syndrome, anak lelakinya. Dua anak perempuannya sudah menikah. Yang sulung seumur dengan saya. Bungsunya masih sekolah, namun sempat beredar anak itu sudah dikeluarkan dari sekolah. Entah karena biaya yang menunggak atau pergaulannya yang salah sehingga ia dikeluarkan.

“pak mandiin si Deden! saya harus cepat pergi” seru ceu minah yang hendak bekerja di shift siang, jarak pemukiman yang padat memaksa para tetangga mendengar apa yang sebenernya tak ingin mereka ketahui.

“hmmm” gumaman yang tak dimengerti.

Kanto datang lagi ke kios saya.

“maaf kang…” jawab saya. Sama. Selalu. Sebelum hutang keluarga mereka dibayar.

“Kang berhenti ngeroko aja, ngabisin duit, mending di pake buat beli beras. Kenyang” saran saya, saking bosan dengan kebiasaan Kanto. Dia hanya menatap saya.

“lagian kang kata MUI juga Rokok Haram!” tambah saya. Yang memang tidak tahu dan tidak mau tahu kriteria haram itu buat siapa. Karena Saya pernah menjual rokok ketengan kepada anak-anak yang pulang ngamen.

“Tak ada pemikir hebat tanpa rokok, tak ada penyair handal tanpa rokok, Rokok itu bikin kita peduli sama orang lain!!” serunya, melenggos pergi.

Saya tidak suka dengan kanto. Sok pintar, sok serba tahu. Tapi tak ada satu pun ia kerjakan. Ngomong itu mudah, bicara itu gampang yang susah itu aksinya. Memangnya pemikiran dia selama ini sudah seperti apa? sudah berguna?

Hari ini ia membual lagi. Dan sialnya selalu saya yang menjadi lawan bicaranya. Tak ada orang yang mau mendengarkan kanto bicara. Saya yang memang tak bisa pergi kemana-mana karena terikat kios dengan terpaksa mendengarkan ocehannya. Kali ini tentang pemilu.

“Bentar lagi nyoblos neng!” Ucapnya

“hmmm…” jawab saya tanpa berpaling dari buku catatan hutang saya.

“eh bukan nyoblos, nyontreng!” tambahnya. saya mengangguk.

“akh saya gak akan milih neng! Semua calonnya tukang tipu! Kayaknya gak ada yang akan memperjuangkan orang susah kaya kita…” lanjutnya

Saya melirik Kanto.Tak kan ada yang memperjuangkan kehidupan kita selain kita sendiri kang!

“mereka itu hanya akan mengambil duit rakyat aja! Duit kita! terus mereka makan sampai perut mereka buncit semua…”

Dahi saya berkerut, Duit kita? Memang apa yang dia kasih ke negara ini sampe bisa bilang duit kita?kerja aja kagak!

“ada gak ya orang yang bener-bener jujur? Yang emang buat rakyat neng? Saya pengen si Deden diobatin gratis, saya juga pengen anak saya yang bungsu si Diah bisa nerusin sekolahnya sampe Kuliah…”

Saya diam saja, kanto seolah bicara dengan tokoh khayalannya.

“Neng Ratih mau nyontreng?” tanyanya

Saya terdiam. Saya gak pernah mikirin pemilu. Yang penting saya nyari duit buat makan dan nabung sekolah si Ridho. Apa peduli dengan pemilu yang katanya pesta rakyat. Pemilu itu pesta orang yang mereka bilang caleg.

“neng Ratih pasti mau milih caleg kemarin yang kesini itu yah? Yang ngebagiin beras? jangan neng…” sembari ia menghisap bako. Kanto jadi menghisap tembakau yang ia linting sendiri karena saya tak mau ngutangin lagi.

“Sekarang aja ngemodalin banyak! nanti pas mereka duduk di kursi ngeruk duitnya juga banyak. Prinsip Ekonomi” tambahnya.

Saya menatap kanto yang sedang menerawang langit. Entah apa yang ia pikirkan.

Saya merasa bahagia saat caleg itu memberikan 4 kg beras, lumayan buat menghemat uang selama 3 hari. Saya pun memang berniat nyonteng caleg itu sebagai balasan dari beras. tak pernah saya berpikir apa yang akan mereka lakukan setelah mereka menjabat. Tak pernah juga terpikir mungkin mereka akan mengeruk lebih banyak duit nanti. Mungkin lebih dari harga sekarung beras dalam sehari.

“Brugh! Brugh!!” Suara gaduh datang dari rumah seberang, rumah Kanto.

Kanto segera bergegas meninggalkan kios saya dan menuju rumahnya. Palingan si Deden Haus minta minum.

Saya tak pernah menengok ke rumah seberang itu. Khawatir direpotkan dengan permintaan aneh anaknya.

Kanto tak keluar rumah lagi. Ceu Minah datang dari ujung jalan membawa kantong keresek hitam. Senyumnya menyapa saya yang cemberut menatapnya. Ada ketulusan di raut mukanya. Walaupun ia juga sering mengeluh tentang hidupnya, tapi ia selalu tak lepas dari senyum.

Saya masih muda, tapi raut muka telah tua. Hidup saya memang terasa sulit, dan saya menutup diri untuk tidak menyusahkan orang lain dan disusahkan orang lain. Simpel, dan saya kira itu adalah cara termudah menghadapi hidup.

Abu rokok Kanto tertiup angin sore di awal bulan April. Baunya membuat saya sedikit terbatuk dan berpikir untuk mulai peduli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: