Dari UIN Untuk Sukabumi

Oleh Miftahul Khoer

Di sebuah rumah milik ibu Ai. Di ruang tengah, tiga sofa dan sebuah meja berdiri dengan rapih. Rumah yang sekaligus dijadikan posko salahsatu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Hari itu, minggu ketiga KKN dilaksanakan. Posko sedikit sepi. Mahasiswa yang lain tengah sibuk di kamar masing-masing.

Suci (bukan nama sebenarnya) membakar rokok mild dan mengepulkannya keatas langit. Kerudungnya sengaja terbuka. Rambutnya lurus terurai. Tak peduli teman pria sekelompoknya melotot. Segelas kopi menemaninya di sore yang dingin menjelang magrib.

Suci adalah salah satu mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang sedang melaksanakan KKN. Sudah empat hari ia meninggalkan posko. Ia usai liburan bersama kekasihnya di kawasan Pelabuhan Ratu dan menginap di posko pacarnya. Hari itu Suci sudah kembali.

tong beja-beja ka ketua nya… si eta mah sok ngambek. Eh..maneh nyaho teu urang sok ngaroko bareng jeung kabogoh urang. (jangan bilang-bilang sama ketua ya… dia itu suka marah. Eh..kamu tahu gak, saya suka meroko bareng pacar saya).” Ungkapnya seraya menikmati kepulan asap. Sementara sang ketua sedang melakukan kunjungan ke kelompok tetangga di kawasan Sukalarang, Sukabumi.

Memang, Sukabumi ditetapkan sebagai lokasi KKN untuk tahun 2009. hal ini tak lepas dari kerjasama antara pihak kampus dan gubernur Jawa Barat. “KKN kali ini disebar di 6 kecamatan. Kec. Sukalarang, Sukabumi, Kadudampit, Sukaraja, Cisaat dan Cisolok.” Ucap Chatib Saefuloh, selaku ketua pelaksana KKN.

Peserta KKN sendiri kurang lebih 1200 mahasiswa dari 7 fakultas yang diasuh Nanat Fatah Natsir ini. yang ditugaskan sebagai bentuk implementasi dari Tridarma Perguruan Tinggi yakni Pendidikan, Penelitiaan dan Pengabdian pada masyarakat. Tema yang diusung tak jauh beda: “Dengan KKN Mahasiswa Universitas Islam Sunan Gunung Djati Bandung Belajar Dan Mengabdi Kepada Masyarakat”.

Kegiatan yang dilaksanakan dibeberapa kelompok beraneka ragam. Sesuai dengan keadaan masyarakat yang menjadi tempat kegiatan. Dan setiap program memerlukan biaya yang tidak sedikit. Hal ini yang menjadikan setiap kelompok harus mengumpulkan dana yang dibutuhkan. Caranya dengan patungan setiap orangnya. Sisanya masing-masing kelompok menyebarkan proposal ke setiap perusahaan dan intansi terdekat.

“perorang dipungut 500.000 rupiah, belum ditambah biaya jajan.. total sih kalau aku pribadi satu juta lebih. belum ditambah persiapan sebelum KKN nya buat beli kebutuhan selama disana, ada lah total semuanya dua juta kurang…hehehe.” Ungkap Liskomala Dewi, peserta KKN yang ditempatkan di Cisolok.

Adakah dana kucuran dari rektorat untuk peserta KKN?

“ ya, ada anggaran dari pihak rektorat yang berasal entah dari pos bagian perencanaan atau yang dari bagian-bagian lainnya yang tidak dapat diketahui, dan dana yang dikeluarkan itu dikelola sesuai dengan kementrian keuangan yang dipertanggung jawabkan oleh rektor.” Tambah Chatib.

Lebih rinci Chatib menambahkan bahwa dana tersebut lebih digunakan untuk biaya operasional, honor dosen pembimbing, pembiayaan perencanaan dan pelaksanaan. Sisanya untuk perizinan ke kabupaten dan provinsi serta kebutuhan administrasi alat tulis kantor (ATK).

“kalau masalah biaya hidup dan sehari-hari peserta KKN, sudah menjadi kewajiban mereka (mahasiswa – red) untuk mengeluarkannya.” Tegas kepala Lembaga Pengembangan Mahasiswa yang berpostur subur ini pada Suaka.

Banyak kisah yang menarik selama berlangsungnya kegiatan KKN ini. mulai dari yang menyenangkan sampai yang menyedihkan. Namun, salah satu syarat lulus kuliah yang berbobot 2 SKS ini masih dirasa perlu oleh banyak kalangan.

KKN itu perlu, karena bagian dari Tridarma perguruan tinggi.” Tegas Eif salah satu pengajar di Fidkom. Dan di tempat yang berbeda seorang dosen bernama Hannah dari Fakultas Ushuluddin mengungkapkan bahwa KKN itu perlu namun harus sesuai dengan prinsip awal (Tridarma – red). “tapi pada akhirnya prinsip tersebut banyak yang tidak tercapai disebabkan oleh berbagai alasan.” Katanya.

namun, opini tersebut berbeda dengan yang dilakukan dilapangan, wargapun seolah-olah enggan berpisah dengan peserta KKN, karena manfaat dan sisi positifnya yang dinilai mampu memberikan pelajaran dan kenangan bagi masyarakat sekitar.

engkin upami tos aruih tong miceun nya, heug ameng kadie da moal disasaha, upami tiasa mah engkin Agustus kadarieu deui kanggo ngalatih barudak deui. (nanti kalau sudah pulang jangan melupakan begitu saja, maen aja kesini pasti kami senang, kalau bisa, Agustusan pada kesini buat melatih anak-anak lagi).” Ucap Rinrin, salah seorang warga dusun Tangsel desa Sukamaju yang menyambut hangat kedatangan mahasiswa KKN. Rinrin sempat menyucurkan air mata saat peserta KKN meninggalkan dusunnya.

Dampak KKN begitu besar bagi warga sekitar. Beberapa kegiatan masing-masing kelompok mampu membius warga dengan kenangan manis. “kegiatan yang bisa kita hidupkan lagi misalnya pengajian anak-anak yang tadinya tidak ada menjadi ada.” Ungkap Asep Zaenal Budiman ketua kelompok 65 yang bertempat di Selabintana. Asep menambahkan bahwa kegiatan KKN di kelompoknya juga mengadakan pelatihan jurnalistik, penyuluhan organisasi kepemudaan dan pemilihan umum yang bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Sementara itu ketua KKN 76, Endi Rohendi, mahasiswa Biologi yang berada di desa Sukamanah mengungkapkan bahwa kelompoknya fokus pada masalah pendidikan anak. Salah satunya mengikuti kegiatan belajar mengajar di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) dan Sekolah dasar yang sudah berjalan di desa Sukamanah.

“kami senang atas beberapa program yang disampaikan oleh tiap-tiap kelompok. Semoga dengan kegiatan KKN ini bisa membawa sedikit perubahan pada desa kami.” Ungkap Iis Kurniasih, kepala desa Sukamanah, kecamatan Cisaat.

Lain halnya dengan kelompok KKN yang ditempatkan di Cisolok. Terdengar kabar bahwa salah seorang peserta KKN mesti menerima bogem dan pukulan dari warga setempat gara-gara dipancing untuk meminum minuman keras oleh para pemuda sekitar. Sementara mahasiswinya terpaksa harus meninggalkan lokasi gara-gara warga setempat tak bersahabat dan meminta salah satu mahasiswi untuk dipacari. Sontak mereka pada ketakutan.

“ada tuh di Cisolok tapi gak tau kelompok berapa, anak KKN disiksa gara-gara diajak mabok sama pemuda, padahal para pemuda setempat cuma ngetes aja, dan ternyata anak UIN nya mau diajak mabok, wah.. itu mah langsung weh di pukulin sama warga.” Ungkap Irfan, yang KKN di Cisolok seraya meragakan.

Satu lagi kisah yang menggelitik dan menimbulkan pertanyaan. Tiba-tiba masing-masing Dari kelompok 001 sampai 020 menerima sebuah pesan singkat. SMS tersebut berisi undangan pertemuan salah satu caleg Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Beberapa perwakilan kelompok datang ke tempat yang dituju. Mesjid Ad-Dhorifah di kawasan perbatasan Cianjur – Sukabumi.

Beberapa aneka hidangan disajikan sang caleg. Dengan penuh semangat dan harapan satu persatu dari kelompok mempresentasikan keluhan masing-masing lokasi KKN. sang caleg menampung seluruh apa yang diungkapkan para mahasiswa ini. dengan wajah penuh senyuman dan sedikit berwibawa layaknya anggota dewan yang sudah jadi, ia menjawab segala keluhan para mahasiswa semester delapan ini.

Entah dalam rangka apa caleg asal Ciaul Sukabumi yang mempunyai nomor urut satu ini mengundang mahasiswa yang sedang KKN. Yang jelas setelah acara pertemuan, di luar mesjid ia membagikan beberapa kalender dan stiker dirinya pada mahasiswa. Apakah ini yang dinamakan aji mumpung terhadap mahasiswa KKN?

Diantara kejadian yang terjadi selama KKN. Ada yang lebih mengemparkan lagi. Tepat saat hari terakhir pelaksanaan, di luar kawasan tol kopo tepatnya seratus meter keluar gerbang tol, sebuah mobil Peroza yang di tumpangi Bobby dan Aang, peserta KKN kelompok 008 menabrak sebuah kendaraan Carry berplat nomor Z dari arah yang berlawanan. Peristiwa itu terjadi pada pukul 14.00. Faktor kelelahan dan ngantuk adalah dua penyebab utama yang terjadinya kecelakaan ini. “saya nggak kuat ngantuk” ujar Bobby saat ditemui Suaka di RS Imanuel beberapa waktu lalu.

Kedua mobil hancur tidak berbentuk. Sesaat sebelum kejadian, Opik mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris mencurigai ada yang tidak beres terjadi pada Bobby. Pasalnya mobil yang ditumpangi Bobby tak kunjung terlihat di kaca sepionnya. Lama menunggu, akhirnya Opiek memutuskan memutarkan mobil yang ditumpanginya kearah TKP. Naas, pas sampai di sana Bobby dan Aang sudah tidak berdaya lagi dengan kondisi mobil yang gepeng. Begitu pula dengan mobil Carry, kondisi sopirnya sudah tidak bernyawa lagi semetara dua orang lainya selamat. hanya menderita luka ringan. Sesaat kemudian datanglah warga dan polisi membantu mengevakuasi korban. Bobby dan Aang segera dilarikan ke RS Imanuel, sementara korban lainya dilarikan ke RS Hasan Sadikin Bandung.

Hingga berita ini diturunkan, kasus tabrakan maut tersebut masih dalam proses penyidikan pihak Kepolisian. Sedangkan dari pihak korban yang meninggal dunia, mengikhlaskan kejadian tersebut. “Mereka megatakan bahwa kejadian ini merupakan kehendak Allah Swt. jadi kami tidak menuntut apa-apa.” Tutur Opik sesuai apa yang dikatakan keluarga korban. Opik adalah pemilik mobil yang dikendarai Bobby.

[] Aida, Nurhikmah, Yati, Femi, Ilma, Nopi, Herlan, Agus.

kontributor: Nur Azis – Mahasiswa Jurnalistik UIN SGD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: