Mengais Rezeki Di Kampus Sunan Gunung Djati

oleh Miftahul Khoer

Enam siswa berseragam Sekolah Menengah Pertama tengah memilih dan melihat-lihat bros serta asesoris. Pelataran jalan depan perpustakaan kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung mendadak ramai dijejali pedagang. Itu tak seberapa, dari awal gerbang kampus sampai area berteduh civitas akademi, di bawah pohon rindang (DPR) padat oleh pedagang.

Hari itu tiba-tiba saja kampus UIN ramai seperti pasar. Mulai dari pedagang kaos kaki, buku bekas, pakaian, makanan dan aneka dagangan lainnnya. Banyak warga sekitar yang sengaja datang hanya untuk berbelanja.

Iyan, pria berkulit sawo matang asal Jogja sudah stand by dari jam sembilan malam demi mendapatkan tempat untuk menjual dagangannya saat wisuda digelar.

Bros terbuat dari batok kelapa. Dipotong sesuai ukuran yang diinginkan tergantung desain apa yang mau diukir. Bros yang unik dan cantik buatan keluarga. Semacam Home industry kecil-kecilan. Iyan hanya menjual seribu rupiah perbros. Siang itu Sabtu, hari ke empat belas di bulan Maret 2009.

Sehari-hari Iyan menjual asesoris secara keliling. “kalo saya mah dimana-mana, di pasar baru dan alun-alun.” Ungkapnya. Sekarang Iyan tinggal di jalan Astana Anyar Bandung. Wajahnya terlihat senyum saat ia membereskan dagangannya, usai acara wisuda. “ya alhamdulillah pendapatan saya lumayan.” Kata lelaki yang belum menikah ini.

Berdagang di kampus UIN menjadi alternatif mata pencaharian yang menjanjikan. Pasalnya, acara wisuda adalah acara yang ditunggu-tunggu oleh sebagian pedagang. omset yang lumayan besar menjadi salah satu alasan para pedagang untuk mengais rezeki di lahan kampus. “omset jualan di waktu wisuda memang sangat diharapankan dan alhamdulillah lah.” Ungkap Nana salah seorang pedagang sepatu produk Cibaduyut.

Tiap pedagang dikenakan biaya 5000 rupiah. Uang segitu termasuk biaya kebersihan, sewa tempat dan keamanan. hasilnya akan dibagi rata antara keamanan dan cleaning service juga masyarakat sekitar yang memanfaatkan acara wisuda ini dengan menjadi tukang parkir dadakan. “pihak keamanan tidak mau makan sendiri, kita kerjasama dengan masyarakat luar dan cleaning service.” Ujar Ayi Bima selaku koordinator Satpam.

Memang, acara wisuda ini menjadi lahan untuk mengais rezeki. Tidak hanya para pedagang yang mendapatkan untung, pihak rektoratpun termasuk bagian Humas merasakannya. Seperti yang diungkapkan Reza, pemilik Reza Photo Studio, mengatakan bahwa dirinya telah bekerja sama dengan bagian Humas. Meminta izin menggunakan listrik kampus. “kita lagi rame ya bagi-bagi pada pihak yang punya lokasi.” Tandasnya.

Namun tidak semua pedagang merasakan keuntungan dari hasil jualannya. Dari sekian banyak pedagang, banyak pula produk jualannya yang sama. Otomatis membuat pedagang gigit jari akibat bejibunnya dagangan yang serupa.

“Kumaha bu rame?”

“wah..KO..Ancur” kata seorang pedagang batagor dan bubur yang bernama Ade ini menimpali.

[] godi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: