All For 4Magz

Oleh: Tina Suhartini

Sabtu itu, cuaca terasa pengap. Pertanda hujan akan mengguyur Kota Bandung. Kami, crew 4magz, breefing sebelum naik angkot yang akan mengantar kami kembali ke UIN Sunan Gunung Djati. Semua hal tampak begitu mudah dan terencana, kami akan membuat majalah 4magz, majalah perdana kami.

Angkot yang ditunggu akhirnya datang juga, kami segera naik, tapi apa daya, angkot sudah penuh dengan peserta PJMTD yang lain, kami pun berpencar. Saya tertinggal sendiri di angkot terakhir yang sesak dengan berbagai barang panitia.

Sesampai di UIN kami segera menyebar untuk mengerjakan tugas masing-masing sesuai dengan intruksi pemred saat breefing tadi.

Jam 5.30, kami berkumpul di depan UIN dengan flashdisk yang telah terisi bahan majalah. Tak ada selintas pun kekhawatiran, kami optimis dengan majalah kami.

Kami kembali berpencar untuk menyempurnakan berita, saya dan Gugum ke kosan Firman, teman Gugum. Sedangkan Miemie, Wina, dan all crew ke kosan temen Miemie untuk me-layout.

Hujan benar-benar mengguyur kota Bandung yang kepanasan asap knalpot. Awan seperti menumpahkan semua air yang ia punya, rintik hujan bagai kelereng yang dilemparkan tepat diatas kepala.

Deadline pukul 21.00, sementara jam usang di kosan sudah menunjukan pukul 20.45 hujan tak kunjung reda, kami tak kehilangan kontak, sms-sms untuk mengetahui perkembangan kerja masing-masing terus dikirim. Kami tetap semangat walaupun agak khawatir dengan deadline. Sampai akhirnya sms Miemie yang mewartakan kalau komputer tempat ia melayout nge-hang dan bahwa kenyataan dia merasa ingin menangis, meruntuhkan semangat saya, rasa khawatirpun meraja.

Hujan agak mereda, saya dan Gugum segera meluncur ke gang kujang dengan kendaraan kebanggaan Gugum, Vesva. Miemie berpayung menjemput kita di depan gang.

Wajah-wajah lelah menyapa saya dan Gugum, menatap komputer, nyata bahwa kami semua kecewa. Pertanyaan- pertanyaan kenapa menjadi topik bahasan kami, dan ketidakberuntunganlah jawabannya.

4 bungkus nasi goreng, kami jadikan satu porsi untuk enam orang. Kami makan bersama, candaan bahwa acara makan kali ini adalah paling romantis, karena ditemani rintik hujan dan temaram layar komputer membiaskan kekecewaan kami.

Mengumpulkan segala keberanian, kami datang ke SUAKA untuk meminta maaf dan meminta pengunduran deadline, kang Wicak sempat berkelakar (atau mungkin menyindir?) bahwa deadline kami bisa sampai dua hari lagi.

Hari senin, deadline semua kelompok jadi jam 18.00. seluruh peserta diminta datang untuk presentasi produk jurnalistik masing-masing. Dan lagi, setelah ganti komputer, majalah kami masih tidak bisa dicetak, entah kenapa, tapi saya mengambil kesimpulan, Allah belum mengizinkan.

Saya tidak hadir, dengan alasan saya tidak boleh pulang malam. Ternyata semua crew 4magz tidak hadir, kecuali Yuda dan Dodhi. Saya menerima sms dari Ilma, peserta PJMTD bahwa kelompok kami dicari panitia, dan selanjutnya sms-sms Ilma terasa menjadi sms terror karena terus menanyakan keberadaan kelompok kami.

Selasa, jam 11.30, crew 4magz berkumpul untuk menyelesaikan majalah, kami menyusul Miemie di kotsannya, di komputer ketiga, layout majalah kami dibuat. Saya bolos kuliah dan begitu pula crew yang lain. Sekitar jam 14.30, 4magz siap cetak, saya dan Wina turun mencari rental komputer. lagi, terjadi, majalah tidak bisa dicetak karena menggunakan aplikasi coreldraw 14, dan hampir semua rentalan yang kami temui hanya mempunyai aplikasi coreldraw 12 , jadilah file majalah tidak bisa di buka.

Tetapi ada satu rentalan, Al-Hikam, yang memberi kami solusi dengan mengganti jenis file dengan WPG. Kami segera kekosan Miemie dan mengcopy ulang semua file, satu per satu. Kami pun segera turun menuju Al-Hikam, dan lagi, hanya 3 file yang bisa terbuka, kami copy ulang, dan masih tidak bisa di buka!.

Runtuh sudah semangat kami, saya sempat berpikir adios SUAKA! Tapi crew yang lain masih semangat, seolah menjadi anggota SUAKA adalah harga mati! Sampai terbit ide untuk membawa CPU ke rentalan, dengan penuh harapan Gugum dan Miemie kembali ke kostan membawa CPU. Jam menunjukkan pukul 18.55, saya harus segera pulang, bukan takut menjadi upik abu tapi karena saya harus mengejar angkutan, Kobutri. Dengan rasa bersalah saya pulang duluan.

Sms Miemie membuat saya tidur lelap malam itu, 4magz sudah dicetak! Lega.

Mental saya benar-benar teruji, bukan berani menantang bahaya, atau kebal menerima caci maki, tetapi rasa tanggung jawab dan loyalitas saya terhadap kelompok. Great!!

-Tina-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: