KABAR IRIT MAHASISWA BARU

Oleh : Elly Nurhadi

pic_0105

Gadis itu bernama Rina Apriani. Dia kaget bukan main ketika memasuki kampus hijau nan rindang ini. Ketika masuk kelas dan Labolatorium Bahasa yang penuh dengan debu. Semacam ada ketidak cocokan dengan apa yang diharapkan. Tidak betah. ditambah para pedagang yang di perbolehkan memasuki area kampus. Rina seperti ada keinginan pindah dari kampus ini. Namun apa daya tak sampai. “awalnya saya daftar ke Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta, tapi saya tidak lulus test disana”. Ungkap mahasiswi Kependidikan Islam ini.

Wajah baru. Teman baru. Mahasiswa baru. Inilah kata-kata yang kita lihat dan rasakan sekarang dikampus ‘tercinta’ ini. UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kampus yang sudah puluhan tahun silam berdiri ini. Namun, ketika kita mendengar kata ‘baru’ apakah semuanya sudah diperbaharui ?. kelas baru, dosen baru, toilet baru, bangunan baru misalnya?

Tahun 2008 ini, Universitas yang di ‘kendarai’ Nanat Fanat Natsir ini telah menerima sekitar 2800 mahasiswa lebih. Sudah pasti hal ini menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi civitas akademi kampus. Akan tetapi, sebuah kebanggan itu belum semuanya dirasakan oleh yang namanya agent of change ini.

Berdasarkan polling Suaka, Sabtu (18/10), 50,7% kata “biasa saja” muncul ketika mereka ditanya bagaimana kesan kuliah di UIN. Faktor apakah yang membuat kata “biasa saja” lebih unggul daripada “Baik” ?.

Berpelangi alasan mereka katakan. Namun, “fasilitas” menjadi warna paling jelas diantara semuanya. Bertambahnya jurusan baru semacam Manajemen, Administrasi Negara, dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, menambah daftar “menu” perubahan yang harus UIN lakukan. Sayangnya, sarana belajar belum bertambah seiring dengan membludaknya mahasiswa baru.

Hikmat, misalnya, ketua prodi Matematika ini mengatakan, tidak ada perubahan signifikan yang terjadi. meski mahasiswa baru membludak. Dari segi fasilitas pun sama sekali tidak ada penambahan. Justru banyak mahasiswa tidak kebagian kelas, imbasnya mereka harus pinjam gedung lain dan mencari kelas kosong. Hal yang sama dirasakan para dosen. Jam mengajar ditambah melebihi kewajiban, sehingga (di jurusan Matematika) sering mendatangkan dosen-dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), karena kekurangan tenaga pengajar. Seharusnya pihak civitas kampus mengambil ancang-ancang dengan menambah fasilitas dan dosen.

Alhasil, mesjid pun menjadi tempat alternatif untuk belajar setelah sebagian mahasiswa berkeringat kecapean mencari kelas kosong. Melakukan sesuatu berarti harus siap mempertanggung jawabkannya, tapi sampai saat ini UIN belum bisa mengoptimalkan kewajibannya untuk memberikan pelayanan yang memadai untuk mahasiswa, khususnya mahasiswa dengan jurusan baru. “saya belajar di Mesjid”. Ujar Tian mahasiswa PBI ini mengungkapkan.

Namun, Tian sangat senang kuliah di UIN ini. Karena dia bisa belajar di jurusan yang dipilihnya. “saya comfort di lingkungan yang seperti ini, terutama di organisasinya”. Tambahnya.

Hal serupa dirasakan Lida. Kesan selama kuliah di UIN membuatnya merasa cocok dan betah. Karena jurusan yang dia pilih menurutnya hanya ada di UIN, di tambah lingkungan yang lumayan shalih dan baik. Tapi ada sedikit hal yang dia sayangkan. “para mahasiswa ada yang tidak mencerminknkan kalau dia kuliah di Universitas islam”. Kata mahasiswa KPI ini tegas.

Hal ini menjadi “PR” bagaimana agar citra UIN tetap terjaga. Menjadi mahasiswa UIN, tidak bisa dipungkiri, masyarakat mengenal kita sebagai mahasiswa yang bisa mempertangung jawabkan kata “ISLAM” saat masuk dan keluar dari sini. “Bukan jurusan agama” menjadi alasan standar ketika lulusan UIN tidak bisa menjadi imam sholat bahkan ceramah

Beban atau tantangankah?. Bisa jadi kedua kata itu melekat sebagai tuntutan menduduki jabatan mahasiswa UIN. Bukankah berakhlak baik itu tidak memandang apakah jurusan kita ada mata kuliah “agama” nya atau tidak?.

Walau banyak keterbatasan , para Maba ini banyak yang tidak ingin pindah. Mereka mau berjuang bagaimana menghasilkan keluarbiasaan dibalik keterbatasan..

Memang banyak hal-hal yang tidak disukai mereka, seperti wc –wc yang rusak, dan perpustakaan yang bukunya minim.

Tapi sekali lagi ini adalah tantangan mahasiswa bagaimana menjadikan kampusnya sendiri nyaman dan membanggakan. Itu akan mustahil jika kita hanya bisa menjelek-jelekkan UIN tapi tidak bisa memberikan kontribusi yang real kepada UIN.

[] Aida,Elly,Sri lina/Suaka

Comments
One Response to “KABAR IRIT MAHASISWA BARU”
  1. sunardi albantani says:

    kita sebagai mahasiswa uin bandung atau alumni jaga nama baik almamater tercinta walaupun kampus serba kekurangan fasilitas jangan di jadikan kita untuk malas belajar kita lihat banyak alumni kita yang sukses bahkan alumni kita banyak yang jd dosen di amerika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: