Profil

Ridwan Effendi:

Mesti Diacungi Jempol

Meskipun ia tidak bisa melihat, namun keahlian yang dimilikinya

Tak kalah dengan orang yang bisa melihat.

22 tahun silam, Ridwan Effendi mengalami kisah tragis. Ketika duduk dibangku Sekolah Dasar kelas empat, ia kehilangan penglihatannya akibat mall praktek. Alhasil dia menderita kebutaan. Namun hal itu tak menciutkan nyalinya untuk tetap semangat hidup. Pria yang memiliki senyum lembut ini memiliki keiinginan untuk terus belajar dan mencari ilmu.

Dorongan keluarga yang terus mendukung cita-citanya menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan agama, terus diberikan pada dirinya. Kemudian ia memasuki Sekolah Luar Biasa Wyata Guna Bandung tahun 1988 sampai 1991. memiliki kekurangan fisik tak membuat pria asal Sukabumi ini loyo, ia melanjutkan studinya didunia pesantren, tepatnya di Ranca Bogo, dari Taziziyah sampai Mualimin di Pesantren Persatuan Islam nomor 76. walaupun keluarganya mayoritas Nahdatul Ulama.

Semangat yang berkobar-kobar seperti api, tertancap dalam dirinya untuk terus melanjutkan pendidikannya ketingkat yang lebih tinggi. Meski ia sadar bahwa keluarganya memiliki masalah ekonomi. Bak pendekar yang pantang menyerah, iapun nekad masuk IAIN (sekarang UIN SGD BDG) lewat jalur PPA. Setelah diterima dikampus yang ia banggakan, Ridwan mengambil jurusan Sastra Arab, karena menurutnya jurusan itu tak jauh beda dengan latar belakang pesantrennya.

masalah belum juga reda. Setelah diterima dikampus ini, Ridwan masih dibingungkan dengan biaya kuliah dan makan sehari-hari. Namun harus kita semua sadari bahwa tuhan memang maha penyayang kepada semua hambanya. ia diberi jalan untuk menutupi rasa kehawatirannya itu. Ia dipertemukan dengan Latifah Dahlan, seorang ibu asuh yang membantu biaya hidupnya. juga Pak Syarif, Ketua Mesjid Alhuda yang membantu dan memberi sedikit gawean. “ saya mengajar prifat pada anak pak syarif, dan akhirnya saya dapat biaya hidup sehari-hari”. Tuturnya mengenang. Iapun menambahkan Pak Maksumpun sempat membantunya.

Ada kisah unik yang dialaminya selama duduk dibangku kuliah. Meskipun pria ini memiliki cacat fisik, lelaki penggemar musik klasik dan nasyid ini tak kenal minder dalam urusan cinta. Tak tanggung-tanggung, ia pernah memiliki tiga dambaan hati selama kuliahnya, namun itu tak berselang lama karena ia harus konsen dengan urusan kuliahnya dan mengenyampingkan urusan wanita.

Alhasil karir dipendidikanpun semakin melonjak. Pria yang mahir bahasa Inggris dan Arab ini tercatat sebagai mahasiswa yang lulus paling cepat. Tiga tahun delapan bulan pada angkatan 98. IPK-nya mesti diacungi jempol, 3,60. ia juga sempat ngajar dimodern Unisba. ngajar anak dosen dan karyawan Unisba di komplek perumahan Unisba Raya, Jati Handap Cicaheum Bandung. Tinggal setahun disana.

Luar biasa. Kata itu yang harus diucapkan oleh kita semua. Pria yang selalu menenteng tongkat kemanapun ia pergi ini memiliki kemampuan diatas rata-rata. Selain menterjemahkan novel bahasa Arab dan Inggris, ternyata ia pun seorang penulis novel dan puisi yang produktif. Sekarang saja ia tengah sibuk menyusun antologi puisi yang dikarangnya dan sebuah novel yang menceritakan dirinya . Gosipnya, karya-karya yang ditulisnya sedang dilirik oleh beberapa penerbit.

“hidup di akademis harus berkarya karena tulisan mencerminkan intelektual seseorang”. Katanya pada SUAKA waktu lalu. Ya, memang selain menulis karya fiksi, mahasiswa pasca sarjana yang sedang menulis tesis ini sering ceramah diberbagai mesjid dan Radio diBandung. dan jangan heran, Selama proses menulis, ia menggunakan Laptop yang dimilikinya. Wartawan SUAKApun sempat tercengang-cengang ketika ia mengetik dengan ketangkasan yang cepat layaknya orang melihat. beberapa kalimat diketiknya rapih dilaptopnya itu. Wow.

Kini, pria berumur hampir 32 tahun yang lihai mijit ini tengah sibuk dengan seabreg aktifitasnya. Selain bekerja di humas al Jami’ah bagian operator, iapun mengajar diprogram takhosus UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan menjabat sebagai ketua koperasi ITMI Jabar (Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia). Saat diwawancara terahir, lelaki yang sudah menjabat Pegawai Negeri Sipil lewat rekomendasi mantan rektor IAIN Bandung Endang Soetari ini berencana untuk PJKA, alias Pulang Jum’at Kembali Ahad. katanya kangen sama kedua anaknya, gilman dan sahal juga istri tercinta di Ciamis, yang ia nikahi enam tahun lalu. Witwiiiiw.

[] Miftahul Khoer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: