Janji Yang Ditunggu

oleh:miftahul khoer

Tunggu dulu…

Kamis itu, 10 Juni 2008. di sore hari, setelah hujan kecil reda, terlihat kerumunan sejumlah mahasiswa di depan gedung rektorat. Mereka adalah mahasiswa yang terpilih menjadi peserta dan komite Musyawarah Senat Mahasiswa. Kemudian mereka pergi ke sebuah tempat yang jauh dari keramaian dan sejuk di sebuah dataran pegunungan. Daerah yang asing dari sentuhan kampus. sepertinya lokasi itu dipakai untuk hajat akbar mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam menggelar Musyawarah Senat Mahasiswa (Musema). Bukan tak beralasan lokasi yang ditunjuk sebagai tempat diselenggarakannya momen penting itu, tak lain dan tak bukan agar terwujudnya keamanan.

Memang, sebelumnya sistem keorganisasian mahasiswa di kampus ini berbentuk miniatur pemerintahan. Pemimpin musyawarah di sebut Majelis Permusyawaratan Mahasiswa, dan kepala pemerintahan di sebut Presiden atau Badan Eksekutif Mahasiswa. Begtitupun dengan Dewan Perwakilan Mahasiswa. Sistim pemilu raya pun sempat di gelar tahun lalu. Aroma demokrasi sempat terlaksana. Tapi tahun ini, usai disahkannya SK DIKTI No: Dj. 1/253/2007. suasana mulai berbalik arah.

Setelah lebih dari lima bulan menggodok Pedoman Organisasi Kemahasiswaan (POK) rektorat pun lega. Namun, baik rektor hingga SK Dirjen pun tak luput menjadi bulan-bulanan demonstran. Kembalinya sistem keorganisasian mahasiswa dalam bentuk DEMA berawal dari SK tadi. Rektorpun membentuk “tim tujuh” guna merumuskan POK tersebut. Maka sahlah rencana itu. Dan disosialisasikanlah keputusan tersebut.

Jalur tiga –seluruh elit bidang kemahasiswaan- pun membentuk komite pemilihan Senat Mahasiswa Fakultas (SMF). Sukses terpilihnya SMF di seluruh fakultas berlanjut kepada pembentukan panitia penyelenggara pemilihan Dewan Mahasiswa (DEMA). Dalam proses pemilihan sema –istilah lain dari senat mahasiswa- juga terjadi perdebatan yang alot. Lagi lagi menuai protes di beberapa kalangan mahasiswa. Ada yang ‘turun kejalan’.

Kemudian…

Pagi 13 juni 2008 pondok pesantren Nurruzzaman menjadi saksi bisu atas terpilihnya Ali Santosa. mahasiswa Muamalah fakultas Syari’ah dan Hukum ini terpilih sebagai ketua DEMA, setelah menyingkirkan ketiga calon saingannya.

Sebelumnya, sekitar pukul satu dini hari, calon terpilih memasuki ruangan sidang. Mereka duduk sejajar berhadapan dengan seluruh peserta sidang. Satu persatu dari mereka unjuk gigi. Mengumbar visi dan misi masing-masing.

Calon pertama. Hudri Wahyudin angkat bicara. Menebarkan pesona menggaet perhatian dari sang calon pemilih. Prinsip yang di gemborkannya kira-kira begini. Dia bakal membangun peran DEMA yang strategis dan memiliki progresionalitas, agamis dan demokratis dikalangan civitas kampus UIN. Cukup menarik memang. Apa yang dikatakan Hudri merupakan acuan bagi kemajuan kampus mendatang. Dia juga bicara soal kultur akademis kampus kita tercinta ini. Katanya kultur dikita ini mesti dipertanyakan kembali. sindirnya, dia sedikit mengkritisi mahasiswa, sebagai contoh, bahwa mahasiswa kita ini sering menjiplak ‘comot sana comot sini’ dalam urusan mengerjakan tugas. Sip.

Giliran Ali Santosa di beri sedikit waktu untuk menjelaskan visi misinya. Kata-kata Ali yang dilontarkan waktu itu cukup ‘menantang’ kita semua (baca: mahasiswa). Dia sempat mengatakan bahwa jika dia terpilih menjadi DEMA, maka DEMA sendiri akan menjadi pelayan sekaligus menjadi pemerintahan yang aspiratif terhadap kepentingan mahasiswa.

Gagasannya cukup unik untuk di perhatikan. Sekedar catatan saja. Dari seluruh ungkapan yang dilontarkan para calon DEMA ini memang semuanya perlu di perhitungkan. Ambisi mereka menjadi sang pemimpin mesti di acungi jempol. Tapi jangan sampai terbesit ungkapan mulutmu harimaumu. Nah.

Suasana sidang masih tidak karuan. Peserta masih ada yang tidak care saat para calon menggumbar janji-janjinya. Yang terkantuk-kantuk dan keluar masuk ruangan masih terlihat. Calon ketiga, Acep dapat giliran. Mahasiswa Aqidah Filsafat yang memiliki senyum khas ini dengan penuh semangat berbicara mempromosikan dirinya. Walupun agak sedikit terbata-bata. Memang tak banyak yang digemborkannya. Dia mengajak seluruh civitas akademi kampus untuk sama sama membangun UIN. Menindak segala kebijakan para elit kampus. Dan mengajak mahasiswa bersifat kritis dan berani.

Terahir, giliran Adi Saputra maju kedepan. Pria kalem yang memenejeri kopma ini, agak penuh semangat menebarkan pesonanya sebagai calon DEMA. Tak jauh yang ia bicarakan mengenai kemajuan kampus dan mahasiswa. Dengan strategi ala entrepreneur yang akan di terapkan Adi jika ia terpilih. Memang banyak yang digemborkan Adi ini. Ia meyakinkan akan membawa perubahan bagi kampus ini. Dan ia adalah salah satu calon yang berkomitmen bahwa jika dirinya tidak sanggup membawa kampus lebih baik dalam satu periode, maka ia berjanji akan hengkang dari DEMA.

Ruangan yang dipakai sebagai tempat pemilihanpun mulai sedikit tegang. Berbagai pertanyaan di lontarkan bertubi-tubi oleh peserta sidang, menguji sang calon dedengkot mahasiswa ini. Raut muka para calon terlihat jauh dari berseri. Gugup. Namun semua itu bisa diselesaikan, para kandidat berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan mematikan yang disodorkan peserta.

POK pun melahirkan Ali sebagai DEMA terpilih. Kronologis yang terjadi dipaksa berliku mengikuti proses. Kondisi sidang pemungutan suara saat itu berjalan kacau dan semrawut. Banyak peserta sidang keluar masuk seenaknya bahkan tak sedikit dari mereka yang terlelap. Hal ini telah menjadi catatan buat Ali si pemegang kekuasaan mahasiswa ini terhadap sekitar 10000 mahasiswa yang ada di kampus ini.

Isu yang beredar untuk menyelenggarakan pemilihan DEMA ini memakan biaya yang tak sedikit. Berjuta rupiah telah di habiskan. Tentunya semua pihak tak mau menyayangkan hasil dari semua itu. Intinya, yang harus kita ingatkan adalah perubahan yang progresif dan aspiratif. Sekarang, kami semua tunggu apakah Ali bisa membawa perubahan kearah kemajuan kampus yang ideal ?. [] wicaksono, mikoalonso

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: