Duh…Opak Kenapa Engkau

oleh: Miftahul Khoer

Tahun kemarin, sempat gencar bahwa kampus UIN SGD Bandung bakal diromak. Mulai dari ruang kuliah, fakultas sampai aula bakal diperbesar. Namun nyatanya sampai sekarang belum juga terealisasikan. Akibatnya mahasiswa baru angkat bicara

Ramdani Uwo terlihat tengah santai di sebuah warung kopi di pinggir aula. Kemeja putih ditambah dasi dan celana hitam dikenakannya. Sambil duduk bersama beberapa temannya. Hisapan rokok mild dikepulkannya keatas langit, tak peduli panitia menindak. Mereka adalah mahasiswa baru Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung yang sedang melaksanakan kegiatan Orientasi Pengenalan Akademik. Atau OPAK banyak orang bilang. Seharusnya Ramdani dan temannya berada di aula. Mendengarkan dan menyimak materi yang disampaikan para narasumber. Namun ada hal yang menyebabkan lelaki kekar ini keluar dari aula tersebut. Aula yang selalu dijadikan tempat berbagai acara itu mendadak tak kuat menampung sekitar 3000 mahasiswa baru.

bete sih soalnya banyak yang diluar, kasihan kepanasan. Seharusnya aulanya lebih gede. Atau bikin tenda biar gak ada yang kepanasan. Terus keamanan juga kurang ramah, masa saya beli goyobod gak boleh padahal saya haus, kan kasihan si emang tukang goyobod-nya sudah cape ngaladangan, sampai gak jadi beli”. Ucap Uwo pada suaka dengan kesal. Di hari pertama OPAK digelar, para peserta tampak kebingungan memasuki auditorium yang berkapasitas 2000 kepala itu. Berdesakan.

Alhasil cara yang di tuju pun ditempuh. Sebagian peserta terpaksa ditarik keluar aula. Suasana pun mulai tidak kondusif, sebagian peserta kesal dengan tidak dimasukannya keruang aula tersebut, sementara sound system yang disediakan panitia tidak sampai keluar. Ini mengakibatkan beberapa peserta keluyuran. Panitia pun jadi korban cemoohan public kampus. Banyak yang mengatakan OPAK tahun ini gagal, karena panitia tidak bisa mengkondisikan para peserta dihari pertama. Hal ini menjadi beban bagi pihak panitia, khususnya panitia keamanan. Mereka harus berperan aktif dalam berjalannya acara sedangkan personil yang terjun kelapangan tidak sebanding dengan peserta yang membludak. “jumlah keamanan dari data ada 26 orang, namun yang aktif Cuma 16 orang. sebetulnya saya kurang puas sama OPAK ini ”. Ujar Sukiyan koordinator keamanan.

Seperti gelas yang diisi air terus menerus, maka gelas tersebut akan dibanjiri dengan air yang berceceran. Kasus yang sama dengan OPAK ini. Bercecerannya peserta diluar aula di tambah tusukan sinar matahari yang cukup membakar kulit, membuat para peserta mengkerutkan kening akibat kepanasan dan tak ada tempat teduh selain diteras. Hal ini menjadi pelajaran. Di hari kedua, panitia segera menanggulani masalah tersebut dengan mendirikan tenda tambahan untuk mahasiswa baru yang tidak kebagian masuk aula. “Nah, maka dari itu di hari kedua kami membuat tenda di luar untuk tetap memberikan yang terbaik untuk peserta”. Ujar ketua OC Yosep Permana.

Cara lain yang ditempuh yakni memisahkan sebagian peserta sebagai antisipasi supaya tidak terjadi pembludakan lagi, pihak panitia mengambil kebijakan. masjid Iqomah dijadikan tempat kedua selain aula. “kita mengantisipasi dengan memisahkannya menjadi dua tempat yakni aula dan masjid. Namun hal ini dirasa menjadi tugas tambahan untuk panitia dan juga sangat disayangkan khususnya untuk panitia bidang acara. Karena itu berarti harus ada perubahan yang nantinya akan menjadi kacau”. Tambah Yosep.

Acara pengenalan akademik ini sebelumnya akrab disebut Ta’aruf. Namun paska turunnya SK DIKTI No: Dj. 1/253/2007, acara pengenalan ke-akademikan itu pun berubah menjadi nama yang mirip seperti sebuah makanan khas sunda. OPAK. Ya sejenis makanan yang cukup renyah untuk disantap. Tapi OPAK yang ini bukan makanan sunda yang bisa dibeli dengan harga relatif murah, melainkan acara yang digelar oleh civitas akademi kampus dengan tujuan memperkenalkan berbagai ke-Universitasan, ke-Fakultasan dan ke-Jurusanan kepada mahasiswa baru. Harganya pun cukup menguras kantong saku bagi beberapa mahasiswa yang kurang mampu. Sekitar Rp. 150.000,-. Lebih tinggi dibanding tahun lalu. Mahasiswa mendapatakan sebuah notebook, kaos dan kartu nama peserta. Jika dibandingkan lagi, fasilitas tahun sekarang merupakan paling bagus dari yang sebelumnya. “kalau masalah fasilitas, lumayanlah sekarang ada kemajuan, seperti cover notebook dan kaos lebih baik dari yang sudah-sudah”. Ungkap salah seorang mahasiswa angkatan 2007 yang tak mau disebut namanaya ini kalem.

Tak lupa acara akbar ini selalu di barengi dengan sebuah event yang menunjukan ajang gengsi antar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di Expo. Masing –masing peserta Expo memamerkan segala perlengkapannya. Dari mulai piala prestasi sampai pernak-pernik dipajang disela-sela stand masing-masing. Namun dihari kedua acara berlangsung, listrik mendadak mati. Semua aktifitas yang akan di explorasikan setiap UKM dan HMJ sempat terjegal, padahal beberapa Jurusan yang akan mendemonstrasikan hasil karyanya terhadap pengunjung terpaksa terhenti. Memang terdengar alasan yang cukup logis dari beberapa panitia. Listrik sengaja dimatikan agar tidak mengganggu acara yang diselenggarakan didalam aula. Namun apa yang terjadi, salah satu UKM justru genjrang genjreng berteriak dan bernyanyi diiringi alat musiknya pada saat semua listrik Expo mati. Ironisnya tak ada yang menindaknya.

Pembantu Rektor III Endin Nasrudin menyatakan bahwa OPAK tahun ini adalah ajang pembelajaran untuk tahun selanjutnya. dan secara keseluruhan bagus, karena tahun ini orientasinya pada akademik, seperti diadakannya muhasabah dan sholat lail, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Hari terahir OPAK, mahasiswa baru tampak begitu lelah. Namun panitia menyuguhkan acara yang mengundang seluruh UKM dan HMJ untuk tampil memamerkan kebolehannya. Tak jauh beda dari tahun kemarin, UKM PSPB adalah yang ditunggu-tunggu. Atraksi debus yang membuat mahasiswa baru tercengang diiringi tepuk tangan yang meriah. Dan untuk acara penutupan, panitia menghadirkan grup lawak sasagon. Banyolan Anton abok, dan kawan-kawan membuat aula gemuruh dari teriakan dan tawa riang mahasiswa baru. Ya, ternyata mereka bisa menyulap para peserta OPAK menjadi fresh kembali, yang mulai melupakan kejenuhannya.

[] Wicak, Zed, Yogi, Nopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: