Feeds:
Posts
Comments

SMF PSIKOLOGI UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

DAN

ENERFILL

MEMPERSEMBAHKAN

GEBYAR RAMADHAN PSIKOLOGI

14:30

“SATU EMPATI SATU IKATAN GAPAI SEPULUH”

UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG, 8-9 SEPTEMBER 2009

HARI KE-1 (8 SEPTEMBER 2009), Gedung Auditorium UIN SGD Bandung – Terbuka untuk Mahasiswa dan Umum

Seminar Psikologi Islam

* Tema: “Reposisi Islam dalam Psikologi”
* Pemateri: Buya Royyan (Terapis Psikologi Islam)

Bakti Sosial

* Buka Bareng bersama anak-anak panti asuhan

HARI KE-2 (9 SEPTEMBER 2009), Halaman Fakultas Psikologi – Terbuka untuk Mahasiswa dan Umum

MILAD 10 TAHUN KABEMAPSI (DIALOG ALUMNI, DOSEN, DAN MAHASISWA)

* Tema: “Satu dan Menyatu untuk KABEMAPSI”
* Pembicara: DR.Mursidin, M.Pd (Dekan Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung), Anis Nasrul Haq, S.Psi (Ketua IKA Alumni Psikologi UIN SGD Bandung), Tahrir, S.Psi (Dosen dan Alumni angkatan pertama Psikologi UIN SGD Bandung), Irfan Hilmi (Ketua SMF Psikologi UIN SGD Bandung 09-10)

PENTAS SENI

* Menampilkan HUNIAN BAND merupakan Bintang Tamu dari ENERFILL
* Pentas Seni Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung
* Tajil Gratis untuk 400 Mahasiswa

Registrasi Mahasiswa Baru Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung Tahun 2009 Melalui Jalur Ujian Tulis dan SNM-PTN.

Registrasi dilakukan sesuai dengan jadwal fakultas masing-masing:

1. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan    4-5 Agustus 2009
2. Fakultas Syariah dan Hukum    6-7 Agustus 2009
3. Fakultas Dakwah dan Komunikasi    10 Agustus 2009
4. Fakultas Psikologi    11 Agustus 2009
5. Fakultas Sains dan Teknologi    12 Agustus 2009
6. Fakultas Adab dan Humaniora    13 Agustus 2009
7. Fakultas Ushuluddin    14 Agustus 2009

Pendaftaran dilakukan di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung Jln. A. H. Nasution No. 105 Cibiru, Bandung 40614

[iyansfh]

Wisuda ke-50 Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

1. Pendaftaran : 25 Agustus 2009 – 7 Oktober 2009

2. Pelaksanaan : 17 Oktober 2009

Pendaftaran wisuda di Bagian Keuangan lantai 2 Al-jamiah UIN Sunan Gunung Djati Bandung Jln. A. H. Nasution No. 105 Cibiru, Bandung 40614

[iyansfh]

Pare adalah sebuah desa yang eksotis dan mempunyai kekayaan tersendiri. Di desa ini terdapat banyak sekali tempat kursusan. Mulai dari bahasa Inggris, Jepang, Arab, Mandarin sampai Korea, ada di sini.

Desa Tulungrejo, desa yang ramai jika siang hari. Selepas magrib, ribuan orang hilir mudik di desa ini. Ada yang ngomong bahasa inggris di sepanjang jalan. Mereka sepertinya gak malu-malu lagi dengan kebiasaaan mereka. Mereka sedang kursus di beberapa tempat yang ada di Tulungrejo dan sekitarnya. Salah satunya SMART International Language College (SMART ILC) yang berada di jalan Flamboyan No 182 Tulungrejo – Pare. No telefonnya (0354) 391505

Tadi siang aku kesel banget. Aku gak lulus placement test yang digelar SMART ILC. Aku ngambil kelas Pre Grammar. Tapi susahnya minta ampun. Sebenarnya aku bisa sih ngambil di tempat lain, tapi aku bener-bener pingin menaklukan SMART. Kata orang sih SMART terbilang tempat kursusan bagus untuk Grammar. Dan itu terbukti sama aku sendiri. Ternyata SMART emang keren dan layak diadu. Sistem pengajarannya gak akan di dapat di tempat kursusan lain. Dan aku jamin, sarjana bahasa Inggris pun, kalo udah masuk SMART pasti ilmunya gak ada apa-apanya. Suer deh. Soalnya aku udah ikutan Elementary Grammar. Dan itu udah bikin aku setengah stress. Bayangin dong baru Elementary Aja udah bikin pusing. Apalagi kelas berikutnya. Pre Grammar, Pre Class, Med Class dan High class. Bisa-bisa aku mati medadak. Hehehe.

Kursus di SMART terbilang murah banget. Bayangkan, satu pertemuan kita hanya membayar Rp 1666,- semuanya 66 kali pertemuan. Bisa di hitung dong, dalam satu bulan kita hanya membayar 110.000,- satu harinya tiga kali pertemuan. Satu kali main class dan dua kali study club. Dan jangan heran kalo di kelas, tiba-tiba kita dapat traktiran dari tutor, berupa minuman atau makanan ringan, nanti juga kita bakal kebagian nraktir orang lain. So, jangan bawa duit pas-pasan kalo kursus di SMART. Hehehe. Tapi dijamin kok, ketika kita pulang ke daerah asal masing-masing, ilmu kita gak bakal ilang.

Kenapa aku bilang kursus di SMART itu lain dari yang lain? Pertama, kita kursus di alam terbuka, kadang lesehan. Kedua, para tutornya, kita gak bakal didapat di tempat kursusan lain. Semuanya humoris dan kocak abis, so, bagi yang punya temprament tinggi, mending kalian bersabar dikit, karena ulah dari Para tutor ini kadang di luar batas. Tapi semuanya baik-baik dan keren –keren kok. Hehehe.

Oya, aku bakal kenalin satu persatu tutornya. Pertama, Mr. Ketjeng, orang ini kurus, bergigi ompong, rambut gondrong, namun jangan di sepelekan kapasitas otaknya, dia itu salah satu master of Grammarnya SMART. Kedua, Mr. Nidji, orang ini pendek, rambutnya ikal kaya vokalis Nidji, itulah sebabnya kenapa ia di sebut nidji. Tapi orang-orang di SMART sangat segan padanya. Kemampuan Grammarnya jangan di remehkan. Ketiga, Mr. Syafi, orang ini juga gondrong, namun imut. Gaya bicaranya cepat  dan tangkas. Wajahnya mirip Piyu Gitaris Padi. Tapi mengenai Grammar, semua rumus udah di luar kepala. Dan banyak lagi the master of Grammar di SMART ini. Orang bilang, belum afdol kalo ke Pare gak nyoba kursus di SMART. So, ngapain lagi, ayo kursus di SMART aja.

Oleh Wicaksono

Saya sedih ketika, ‘doktrin’ akang perihal statement ketika mengisi acara bedah buku “Bahasa Media” tempo hari yang menyebutkan media massa independent itu memihak si pemodal. Gimanapun kondisi (baik/buruk) si bos. Ketika bos bermasalah. Ketika bos melumpuhkan. Ketika kedzaliman merebak. Harus seperti itukah wajah pers Indonesia.

Dimana kita harus menempatkan diri ketika rakyat tertindas. Ketika mereka tak punya modal. Ketika mereka membutuhkan informasi yang pro kesejahteraan rakyat. Ketika mereka membutuhkan keterbukaan. Ketika mereka hanya dicekoki budaya pop. Haruskah kita kembailkan wajah pers indonesia seperti zaman orde baru?

Kang romel terhormat. Statement akang sungguh berani. Saya acungkan dua jempol kaki untuk akang. Untuk ucapan “tidak ada salahnya bila media memihak si pemodal.”

Mahasiswa ‘terbelenggu’ dengan adanya POK. Mahasiswa tidak diberi kesempatan untuk tahu kemana perginya dana ikomah. Mahasiswa tidak tahu untuk apa mereka membayar uang praktikum, kalau hanya praktek ibadah dan tilawah. Saya WICAKSONO mahasiswa jurusan hubungan masyarakat, merangkak dari akar rumput. Dana sebesar 1.100.000 untuk registrasi awal masuk IAIN ternyata mengalir di perut birokrat. Ngasong korang di perempatan jalan dengan tujuan untuk membayar kuliah, namun hanya untuk mengisi dompet mereka. Kalau saja mereka tahu, bahwa ada beribu mahasiswa seperti saya. Namun mereka menutup mata, hati dan telinga. Pantaskah mereka, kita sebut khilafah? Haruskah kita bela mereka? Haruskah LPM SUAKA seperti birokrat busuk UIN itu?

Kenapa LPM SUAKA tidak dirubah saja namanya menjadi LPBB (lembaga pers birokrat busuk).
Saya tidak mengharapkan adanya kritik/saran untuk bahasa yang digunakan. Karena ini gaya saya…
Salam perjuangan.
Salam pers mahasiswa!!

Older Posts »